Hal Favorit di Jogjakarta

Kemarin, 1 Agustus 2016, sekitar jam 3 sore gua menginjakkan kaki di Jogja. Setelah 43 hari meninggalkan kota ini untuk bersantai santai di ibu kota, memang gak ada perubahan.

43 hari adalah waktu yang terlalu singkat untuk merasakan perubahan sebuah kota. Tetapi itu adalah waktu yang cukup untuk mengubah perasaan gua pada sebuah kota. Kenapa? Well, keep reading.

Sekitar jam setengah 4 gua sampai di kosan.

Kamar dibuka dan Alhamdulillah, bersih. Gua gak perlu repot repot bersihin kamar karena udah dibersihin Mbak Tini, penjaga kosan gua. Jadi gua langsung memasukkan baju yang ada di koper gua ke dalam lemari.

Karena memang kamar udah ditinggal cukup lama, jelas aja banyak barang seperti sabun, shampoo, dan keperluan rumah tangga lainnya yang sudah menipis stocknya atau bentuknya sudah mengenaskan. Gua langsung memutuskan mandi dan berangkat ke Mirota untuk belanja.

Selesai siap siap, gua menyalakan motor Honda Kharisma gua yang kalo menurut kalendar umat manusia sudah berusia 13 tahun. Artinya, motor gua sekarang harusnya udah menginjak bangku kelas 2 SMP. Tahun depan dia udah Ujian Nasional.

Lanjut.

Membetot gas secara santai dan gak lama gua udah di Jalan Kaliurang untuk isi bensin. Gua pun menyusuri jalan besar itu dengan motor gua secara damai. Gak ada kemacetan, jalanan lengang. Dan seketika itu, terlintas di benak gua.

Now, I remember what I love about Jogjakarta.

Sebagai orang yang tinggal di Jakarta dari pertama kali nangis di dunia, kemacetan parah adalah teman gua. Saking parahnya sampai menurut survey kecil kecilan gua, macet parahnya orang di sini equivalent dengan kondisi lagi lampu merah di Jakarta. Rute 10 kilometer ditempuh selama 2 jam adalah hal lumrah.

Di sini, gua gak perlu ngerasain itu semua. Dan sebagai orang Jakarta, satu poin ini sudah lebih dari cukup.

Oke, lanjut ke cerita gua sore itu.

Gua pun meneruskan perjalanan gua ke arah Selatan Jalan Kaliurang untuk menuju Mirota. Gua belanja cukup banyak dan gak sampe 20 menit gua udah selesai dan siap melancong ke tempat lainnya. Dan otak gua dengan mudahnya mengingat favoritnya akan kota ini.

Gua suka ketika gua harus mandiri dengan sendirinya.

Emang sih kalo ini mah bisa di apply ketika lo merantau dimanapun. Tapi tetep aja gua kuliahnya di Jogja, bukan di Papua.

Disini bukan artinya gua gak mau ketemu orang tua atau gak kangen orang tua. Cuma orang bodoh yang bilang begitu. Tapi gua mesti jujur. Jauh dari orang tua membuat gua dewasa jauh lebih cepat.

Dan ketika gua merasa mandiri atau produktif tanpa pengawasan orang tua, ego gua sudah diberi makan. It is a satisfying feeling indeed.

Lanjut ke cerita gua di sore menjelang maghrib itu.

Setelah belanja, gua pulang ke kosan untuk menata barang barang yang udah gua beli. Di perjalanan gua pulang, gua berhenti di lampu merah Jakal dan MM UGM.

Tiba tiba, seorang ibu ibu paruh baya menghampiri gua dengan membawa barang dagangannya yang (seinget gua) berisi gorengan yang mungkin kebanyakan udah melempem karena dijual dari pagi. Ibu ini kemudian berkata

“mas, minta tolong dibeli mas.” kata sang ibu secara lirih.

“nggih, bu. Berapa satunya?”

“1 nya 500 saja. Kalo beli 10 saya lepas 4 ribu gak apa apa mas.”

Gua hanya sejenak membatin, berfikir. Bukan, bukan bingung apakah akan beli apa enggak. Tapi gua bingung kalo satunya dijual segitu, berapa untung yang ibu ini dapatkan? Apa cukup untuk sekedar makan 3 kali sehari? Bahkan 2 kali sehari? Gua ragu.

“oke bu. Sepuluh aja.” Lanjut gua.

“Makasih banyak mas.” sautnya sambil dengan semangat memasukkan gorengan itu ke dalam kantong plastik.

Karena emang gua sendiri gak tega, gua pun ngasih sedikit tambahan dari harga yang ibu itu tawarkan. Kebetulan waktu itu dompet gua lagi kosong karena belom sempat ambil duit di ATM.

Percakapan selanjutnya gua rasa gak perlu gua jabarkan di sini ya.

Fast forward, sesampainya gua di kosan, gua kasih gorengan yang emang gua gak nafsu buat makannya itu ke satpam di kosan gua. Ada Pak Matt, Mas Ariel, dan Pak Bambang.

Mungkin karena emang lagi laper pol, muka mereka langsung takjub gitu kayak orang yang baru pertama kali liat UFO. Tiba tiba gua merasa seperti malaikat penyelamat yang memang diutus untuk mengganjel lapar di perut mereka.

“Wah mas makasih banget, tau aja lagi laper pol hehe.” Kata pak bambang sambil lahap nyomot tahu isi. Kata kata itu diiyakan oleh Pak Matt dan Mas Ariel.

“Iya pak gakpapa. Cuma segitu. Saya naik ke atas dulu ya pak.”

“Siap boss” saut mereka secara singkat.

Gua langsung masuk ke dalam kamar dan sedikit tersenyum. Tersenyum karena gua baru teringat hal paling favorit gua di Jogjakarta.

Jogjakarta beserta isinya menumbuhkan sisi empati dalam diri gua.

Gua gak bilang bahwa di Jakarta gak bisa ngajarin gua hal seperti itu. Tapi dengan sosialita Jakarta yang mayoritas adalah orang berduit dengan selera mahalnya, cukup sulit untuk menemukan hal hal kecil di atas.

Mungkin gua itu adalah jenis orang yang disebutkan di pepatah. Gua mainnya kurang jauh. Pulangnya kurang malem. But Thank God, gua gak perlu main jauh jauh dan pulang malem di Jogja untuk melihat hidup dari beberapa sisi.

Gua bisa dibilang sangat beruntung untuk lahir dan tumbuh di keluarga yang berada. Gua gak pernah ngerasain susah dari kecil. Gua gak pernah harus milih milih makanan dari harga. Gua gak pernah mikir bayar UKT uang dari mana atau harus cari beasiswa apa. Dan gilanya lagi, gua gak lebih pantes mendapatkannya dari teman teman gua atau orang diluar sana.

Weird, isn’t it?

Makanya gua bilang poin ini adalah yang paling penting. Sedikit demi sedikit gua sadar kenapa Allah berbaik hati untuk ngasih semua kemewahan duniawi ini ke gua.

Dengan gua berkesempatan untuk mengintip kehidupan orang orang yang kurang beruntung atau cukup, mungkin ada tanggung jawab jawab yang diberikan oleh-Nya ke gua. Mungkin Allah kasih ini semua supaya gua bisa meringankan hidup orang-orang di sekitar gua, entah gimana caranya.

Apapun itu, gua bersemangat untuk cari tahu arah jalan ceritanya.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s