Keperawanan

“Van, menurutmu keperawanan itu bakal jadi kriteria kamu dalam memilih pasangan gak?” dia tanya gue.

Pertanyaan ini dilontarkan salah seorang teman cewek gue ketika kami sedang bertatap muka sambil duduk santai di sebuah tempat yang sepi. Topik yang sensitif, tapi why not?

Mari kita abaikan siapa teman cewek yang bertanya hal ini kepada gue dan alihkan fokus kita ke pertanyaannya. Jujur, ini adalah salah satu pertanyaan paling sulit dan menjebak yang gue terima. Apapun jawaban yang akan gue keluarkan dapat menjebak gue kepada sebuah pendapat yang akan sulit diterima oleh semua orang.

Seketika itu gue diam selama beberapa saat. Dalam kesunyian gue mencoba mencari jawaban sesungguhnya yang benar benar merepresentasikan pandangan gue terhadap topik ini. Secara gak langsung, pertanyaan ini juga menguji prinsip gue seutuhnya.

Dan setelah merenung, inilah jawaban gue.

Cowok, sekurang ajar apapun orangnya, pasti menginginkan cewek yang masih perawan. Hal itu sudah pasti. Sama seperti cewek yang senakal apapun pasti ingin cowok yang masih perjaka dan gak buka website aneh aneh. Tapi, apakah implementasi teori barusan sudah dilakukan secara adil? Think again!

Secara sains, ada sebuah parameter yang jelas untuk menentukan apakah seorang cewek itu masih perawan atau enggak. Tapi, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada cowok. Sejauh yang gue tau, belom ada ilmu atau sains yang bisa menguji keperjakaan cowok. Lalu apakah adil kalo seorang cowok memasukkan kriteria keperawanan dalam memilih pasangannya?

Menurut gue: Jelas enggak.

Kalo mau menerapkan sebuah standar minimal untuk salah satu gender, seeenggaknya hal itu bisa diterapkan untuk kedua gender. Tapi hal ini jelas jelas nggak bisa. Hal ini menuntun ke konklusi gue secara keseluruhan.

Buat gue pribadi, keperawanan bisa gue prediksi tidak akan menjadi hal yang perlu masukkan dalam kriteria gue menentukan pasangan.

Ketika gue sudah menentukan seseorang wanita yang gue rasa dapat menjadi pendamping hidup nantinya, artinya jelas kalau gue sudah melakukan riset dan benchmarking terlebih dahulu. In short, I must have done my homework.

Dalam bayangan gue sendiri, kriteria yang akan gue tetapkan ke pasangan gue sendiri tentunya mulai dari personality, kemandirian, latar belakang, pendidikan, kecocokan, dan kemampuannya menghadapi sebuah masalah. Selain itu, ada banyak hal hal remeh lainnya yang akan memiliki bobot lebih berat daripada ‘keperawanan’ dalam kriteria pasangan yang gue inginkan.

Untuk sekarang, gue cuma mengerti satu hal. Ketika nantinya gue telah memutuskan untuk memilih seseorang, itu artinya gue sudah berkomitmen untuk menikahi orangnya, keluarganya, dan menerima masa lalunya.

Mengapa? Karena gue selalu percaya kalo nilai seorang perempuan tidak diukur dari selaput daranya. Sesederhana itu.

Kalian ada tanggapan lain?

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s