Gue Orangnya Serius (?)

“Blog lo kenapa berat-berat amat sih, topiknya!” dia tegur gue.

Ya, setelah post gue terakhir ada dua orang teman gue yang beranggapan kalo gue orangnya terlalu serius dan kayaknya cuma mikir yang berat-berat. Bukan pertama kali sih gue ngepost opini kayak gitu, buat yang follow facebook gue mungkin kalian sudah eneg (dan langsung scroll) tiap kali gue beropini panjang dan sok pinter gitu hahaha, maaf ya guys.

Bahkan, dia berasumsi dengan bilang gue liburan gak pernah main. Segitunya ya persepsi orang? Hahaha.

Gimana ya jelasinnya?

Gini, gue mau sedikit cerita. Setiap orang akan tumbuh dengan membawa karakter dari orang yang mengelilinginya sepanjang ia tumbuh. Untuk mayoritas orang, pengaruh karakter itu datang dari orang tuanya. Ya, tak terkecuali dengan gue.

Sekolah memang memengaruhi. Tapi core dari character building gue mengikuti orang tua, terutama bapak sih kalo dalam kasus gue. Here is why.

Gue menganggap gue adalah orang yang dewasa sedikit lebih cepat dibandingkan orang lain. Definisi dewasa disini jelas berbeda-beda. Standar yang digunakan pun juga beda. Dulu pas SMA, gue mendefinisikan dewasa sebagai orang yang punya full conciousness terhadap apa yang dilakukannya.

Berapa kali lo denger “nakal dulu mumpung pas masih muda” disebut oleh anak anak tidak bertanggung jawab? Ya, sering kan. Ada banyak temen gue yang nakalnya macem macem mulai dari seks bebas, tawuran, minum alkohol, clubbing, dan lain lain. Seakan-akan karena kita masih muda kita gak punya kontrol terhadap apa yang kita lakukan.

Selain itu, anak SMA cenderung tempramental. At least di lingkungan pergaulan gue ya seperti itu adanya. Lirik dikit, tonjok. Adu mulut dikit, tendang. Banyak lah anak-anak sok jagoan di lingkungan sekolah yang suka mencari validasi lingkungan sekitar, mungkin karena merasa gak punya sesuatu yang bisa dibanggakan.

Berdasarkan versi kedewasaan dalam lensa gue, gue berhasil menghindari hal-hal konyol itu. Selain itu gue juga merasa memiliki wawasan umum yang lebih luas dibanding teman sepantaran gue waktu itu. Disaat yang lain masih main-main, gue sudah membiasakan membaca koran tradisional sejak umur gue 11 tahun. Atas dasar itu, gue merasa gue sudah cukup dewasa pada seumuran gue waktu itu (16 tahun).

“Kayaknya udah cukup gue terjebak dalam lingkungan yang gak dewasa seperti itu. Saatnya bertransformasi menjadi orang dewasa sesungguhnya.” bisik gue dalam kepala.

Sebagai anak muda yang mencari seorang role model, kadang membaca biografi seseorang aja gak cukup. Untuk benar benar menanamkan sebuah mindset, ada kalanya kita perlu melihat contoh langsung. Dan contoh apa yang lebih baik selain dari orangtua sendiri?


Gue gak tau ya dengan orang tua lainnya. Tapi menurut gue ada satu habit bapak yang sangat gue ingat ingat dan gue contoh sebisa mungkin.

Yaitu rutinitasnya selama weekend. 

Setiap orang bisa rajin dan disiplin pada saat weekdays. Rata-rata anak sekolah di Jakarta berangkat dari rumah jam 5 subuh, pulang sampe rumah baru jam 5 atau bahkan jam 9 malam kalau ada kursus ekstrakurikuler.

Tapi seberapa rajin lo ketika weekend?

Bapak dari Senin sampe Jumat bangun jam 5 pagi dan berangkat kerja pukul 6 kurang 10. Sebenarnya jarak kantor jika lancar bisa ditempuh selama 20 menit, tapi kemacetan Jakarta membuat hal itu sangat tidak mungkin terjadi jika berangkat diatas pukul 6. Kemudian biasanya bapak baru sampai rumah jam 10 malam hingga jam 12 tengah malam.

(paragraf diatas membuat gue merasa malu ketika gue disuruh pilih-pilih jadwal KRS an, karena beban belajar yang cuma 2-4 jam sehari jelas tidak bisa dibandingkan dengan kerja 18 jam)

Kemudian bangun lagi pukul 5 pagi esok harinya. Seperti itu secara terus menerus.

Come weekend, kalau lo orang normal biasanya akan menghabiskan sabtu dan minggu jalan jalan menghabiskan waktu untuk hobi, berkumpul sama teman-teman, dan tidur istirahat di rumah.

Bapak gue enggak.

Hari sabtu, bapak akan bangun seperti biasa pukul 5.30 pagi dan mandi sebelum pukul 7 untuk berangkat keluar rumah mencari sarapan buat keluarga. Gue juga sering banget dulu ikut bapak cari sarapan pas masih sekolah. Rutinitas ini kemudian dilanjutkan oleh sekumpulan aktivitas seperti belanja keperluan rumah tangga ke carrefour, nganterin ibu ketemuan sama temen di mall, cuci dan servis mobil, mengontrol kontrakan dan apartemen, dan lain-lain.

Sebegitu bertenaganya beliau menjalani weekend tanpa beristirahat di rumah. Pekerjaan yang menuntutnya berada di kantor selama 18 jam sehari, pasti akan membuat siapapun yang mengalaminya tumbang.

Tidak dengan bapak. Beliau selalu mampu menjaga fisik dan stamina dengan rajin-rajin check up ke dokter.

Bahkan ketika beliau berada di rumah, itu bukanlah tidur-tiduran dan tidak melakukan apa-apa. Tapi biasanya sedang bersih-bersih rumah. Gak seperti koleganya, bapak gue gak pernah menyalurkan hobi ketika weekend. Kalau partnernya ada yang mulai dari suka sepedaan, motor gede, golf, dan hobi mahal lainnya, beliau gak pernah sama sekali.

Kalau ada hobi, mungkin ada sih. Yaitu catur.

Dulu tahun 1978, beliau adalah juara catur nasional junior yang sempat dikirim mewakili Indonesia ke negara-negara Eropa seperti Swiss dan Amsterdam bersama GM Utut Adiyanto. Berbeda dengan zaman sekarang, tahun segitu hanyalah orang-orang super kaya di Indonesia yang mampu naik pesawat ke Eropa. Sayang seribu sayang, hobi itu sudah tidak dilakukannya lagi untuk mendedikasikan waktu untuk keluarga.

Itulah kenapa, gue gak malu nyebutinnya, gue menjadikan bapak gue sebagai role model yang punya pengaruh terbesar dalam character building gue selama ini. Gue pengen bisa sedisiplin bapak gue. Period.

Tapi mencontoh seseorang tentunya punya kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan yang gue rasakan adalah habit yang diwariskan ke gue. Gak ada habit beliau yang jelek dimata gue. Serius. Kedisiplinan, kerapihan, etos kerja, semuanya bagus. Bapak gue gak ngerokok, rajin makan, dan sehat. Selain itu, bapak suka banget ngajak keluarga mampir ke rumah saudara untuk menjaga tali silaturahim. Gue memang belom melakukan semua itu, tapi at least gue tau kepada siapa gue harus mencari contoh.

Kekurangannya?

Gue gak yakin ya apakah ini bisa dibilang kekurangan atau bukan. Tapi kalau diharuskan memilih, hasil didikan bapak dan ibu gue membentuk cara berfikir gue yang sangat amat mengedepankan logika dibandingkan kata hati. Bukan berarti tidak punya empati. Beda lho. Hanya saja bapak cukup jarang berbicara tentang isi hati nya kepada keluarga.

Serius.

Jujur gue gak inget gue pernah berbicara mengenai hal-hal personal seperti perasaan ke orang tua. Hal-hal yang seperti ini buat gue mikir kadang gue suka meremehkan sisi emosional seseorang karena gue kurang familiar.

Sebagai contoh, ada orang yang punya segalanya tapi depresi. Gue akan melihat orang itu dengan heran karena gue sendiri gak ngerti gimana caranya orang bisa depresi, dan apa penyebabnya. Otak gue akan refleks menanggapi,

“Lo punya segalanya tapi lo masih sedih? You are such an ungrateful being.”

Pandangan yang sampah sekali, tapi itu refleks langsung dalam pikiran gue. Ya karena gue gak pernah merasakan berada di posisi itu jadi gue gak tau gimana rasanya. Kebahagiaan gue dari kecil hampir selalu berasal dari sesuatu yang tangible. Ketika gue punya alasan untuk sedih (misal: gebetan jadian sama temen sendiri), gue akan bangkit dengan sangat amat cepat (1 hari maksimal) dan lanjut menikmati hal lainnya seperti sesederhana bermain FIFA.

Gue tidak overthinking, tidak depresi, dan kembali bahagia tanpa berusaha menutupi apapun.

Cara berfikir yang kayak gini, akhirnya gue sadari, cukup berbahaya. Gue jadi cenderung tidak begitu peduli dengan perasaan orang lain. Gue seringkali menganggap semua orang itu se-selo dan se-tidak sensitif gue. Hal ini membuat gue bukanlah orang yang punya karisma untuk merangkul di sekitar gue. Gue bisa bekerja dan mengatur, tapi bukan merekatkan. Well, bisa sih kalo dicoba. Tapi bukan second nature.

Gue juga bisa bercanda, tapi kadang mesti dipancing dulu. Buat yang udah tau gue satu atau dua tahun pasti tahu gue orangnya sering bercanda. Tapi ya itu, mesti dipancing hehe.

Egois? Bisa jadi. Gue orangnya bisa dibilang cukup individualis dan tidak terlalu nyaman berada di tempat yang ramai dalam waktu yang cukup lama, seperti bapak gue.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s