Fake It Until You Make It

Setiap orang pasti pernah mengidolai atau menginginkan sesuatu. Biasanya, dalam mencapai hal tersebut ada banyak cara yang dilakukan. Meniru salah satunya.

Gue contohnya.

Pas gue kecil, gue senang sekali menonton MotoGp di TV7 bersama bokap. Tahun 2004 waktu itu masih panas persaingan Valentino Rossi dan Max Biaggi. Kesenangan gue yang cukup berlebih terhadap MotoGP membuat “pembalap MotoGP” adalah jawaban gue setiap kali ditanya ingin menjadi apa jika sudah dewasa nanti.

Menuruti kesenangan gue saat itu, dulu gue suka cari guling untuk gue selangkangi di atas tempat tidur dan kemudian gue menunduk layaknya gaya seorang pembalap yang ada di sirkuit.

Tidak lupa gue berikan sound effect aneh “Ngeeeng ngeeeng” yang sejujurnya lebih mirip kera ambeyen daripada suara mesin.

Alih-alih menjadi pembalap, dulu kalo disuruh naik sepeda roda tiga aja gue selalu ngeles.

“Adek, ayo belajar naik sepeda lagi ya.”
“Aduh ma, ngg anu.. adek lagi berak darah. Gak mungkin naik sepeda..”

Kegiatan berpura-pura  terlebih dahulu ketika ingin mencapai sesuatu tidak henti gue lakukan hingga gue dewasa sekarang ini. Gue adalah orang yang berkeyakinan bahwa tidak ada expert yang langsung jago dan menemukan style nya sendiri ketika baru belajar.

Pasti mereka awalnya pura-pura bisa aja. Misalnya mencoba meniru style orang yang sudah bisa duluan, mengulang-ulang hal tersebut hingga akhirnya ia bisa menemukan style nya sendiri.

Hal ini gue terapkan ketika gue sedang belajar desain menggunakan software Photoshop dan CorelDraw. Ada beberapa karya gue yang lo bisa lihat di blog ini. Karya desain yang gue buat itu tidak ada yang memiliki kesulitan diatas rata-rata, tetapi mungkin ada aliran taste yang berbeda disana.

Meskipun belom bisa-bisa banget, tapi gue sedang belajar mendalami desain User Interface. Dan cara membuat desain itu gue tidak langsung brainstorming dan tiba tiba menghasilkan itu, tapi melalui beberapa kali trial meniru desain yang sudah ada, dan kemudian gue ber eksperimen dengan memberi sentuhan pribadi gue.

Menurut gue tidak ada yang salah dengan metode itu. Karena ada pepatah yang pernah bilang,

Fake it until you make it!

Atau kalo dalam bahasa, “Pura-pura bisa aja dulu, ntar juga bisa beneran.”

Otak manusia diciptakan untuk mengingat hal yang repetitif. Bisa karena biasa. Mengendarai motor atau mobil awalnya tegang, lama-lama juga terbiasa dengan keadaan jalanan. Ngomong bahasa inggris emang ada anak bayi langsung lancar ngomong? Pasti perlu repetisi yang sangat tinggi agar otak beradaptasi dengan segala jenis kesulitan.

Jadi kenapa enggak?

Gue tidak bilang metode ini bebas dari nyinyiran ya. Ada beberapa orang yang mungkin berkata “gak kreatif amat sih. cari style lo sendiri dong.”. Tapi gue sudah belajar untuk tidak mendengarkan cemohan seperti itu.

Selama hal yang lo tiru itu tidak digunakan untuk kegiatan komersial ataupun dijual, apa masalahnya? Toh lo tidak ada hutang terhadap orang yang cemooh. Toh cemohan dia tidak memberi lo ide ataupun membuat lo bertambah jago.

Kenapa harus peduli?

You may look like a fool at first.

People may laugh at you.

But those people have no idea what a progress is. They don’t deserve it one bit.

And you may look back here someday, to see how far you have come. In the end, you will wonder why you ever worried.

Why? 

Because you will have it figured out by then.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s