Penjelasan Brexit Secara Sederhana

Setiap kali gue menulis sebuah post, biasanya ada dua hal yang ingin gue tuntaskan : memuaskan ego pribadi atau memberikan manfaat untuk orang lain.

Kalau dalam postingan gue yang biasanya berisi curhat, gue itu cuma mau memuaskan ego gue aja. Lagipula, tulisan gue seringnya nggak ber-faedah. Nah, kalo dalam postingan ini kebetulan kedua hal di paragraf pertama tadi bisa gue lakukan.

Memuaskan ego pribadi dalam artian gue bisa memperdalam pengetahuan gue di topik ini (karena dengan menulis, gue dituntut untuk membaca lebih banyak). Tapi gue juga pengen memberikan manfaat untuk orang lain. Gue mencoba sedikit berkontribusi dengan apa yang gue punya. Katanya sih kata-kata gue gampang dimengerti.

Tujuannya sederhana, supaya anak muda Indonesia (at least pembaca blog gue) sejelek-jeleknya aware lah dengan isu yang lagi berkembang selain cuma ngeributin masalah penistaan agama sama Raisa pamer paha di instagram.

Disclaimer : Gue gak punya background Ilmu Sosial Politik. Ini cuma interpretasi atau pemahaman gue sebagai pengamat biasa. Kalau misalnya ada yang salah, mohon koreksinya dibawah. Dan akan ada banyak hal yang gue sederhanakan agar lebih mudah dimengerti semua orang.

Oke, kita mulai.

Sebagai intro, mungkin gue jelasin dulu apa Brexit itu.

Brexit adalah singkatan dari Britain Exit yang merupakan sebutan dari seluruh dunia untuk mendeskripsikan referendum UK tanggal 23 Juni 2016 kemarin yang memutuskan bahwa UK akan segera memisahkan diri dari European Union (EU). Referendum diputuskan dengan cara warga UK melakukan voting apakah setiap dari mereka ingin leave dari EU atau remain. 

Voting akhir menunjukkan bahwa 52% memilih untuk Leave melawan 48% yang memilih untuk Remain.

(EU itu kayak ASEAN nya Eropa untuk yang belum tahu).

Sebelum langsung loncat ke akar permasalahan, gue merasa lebih enak jika alur cerita dimulai dengan beberapa pertanyaan yang sistematis. Pertanyaan besarnya sih cuma tiga, tapi ntar bakalan beranak.

1. Apa sih penyebab Brexit itu?
2. Apa efek dari Brexit?
3. Kapan Brexit berlaku?

Mari kita mulai dari pertanyaan pertama.

Apa sih penyebab Brexit itu?

Mulai dari hal yang paling penting. Penyebabnya apa? Kalau menurut gue, karena sentimental negatif warga UK terhadap EU. There, I said it.

Mr. Peterson, seorang ahli sospol dari Stanford pernah mengatakan, “Britain has always kept Europe at a distane, even when they were favorable to the E.U.”

Translate-nya: “Sejak dulu Britain selalu menjaga jarak terhadap EU, bahkan ketika mereka mencoba memihak EU.”

Ketika European Economic Community (bentuk awal EU) didirikan tahun 1957, UK menolak untuk langsung bergabung dengan EU. Tapi akhirnya bergabung mereka pada tahun 1973. Bahkan cumq dua tahun setelah bergabung, mereka ada krisis kepercayaan kepada EU dan mengadakan referendum seperti tahun 2016 kemarin. Bedanya, saat itu ada 67% warga memilih untuk remain di EU.

Walaupun gak ada lagi referendum sampai 40 tahun kemudian, sentimen anti-EU tetap hidup selama beberapa dekade di Inggris. Mereka krisis kepercayaan, dan opini ini bukan cuma dilayangkan oleh kubu yang ingin melepaskan diri dari EU loh.

Bahkan sama kubu yang menginginkan UK untuk remain!

Ada banyak sekali penyebab mengapa sentimen negatif ini makin menjadi-jadi. Tapi dari yang gue tangkep sebenernya intinya cuma dua : kesombongan UK akan sejarahnya dan kebijakan EU terkait imigran.

Untuk melakukan simplifikasi permasalahan, gue akan bilang begini. Integrasi UK dengan EU jelas membuat mayoritas kebijakan Pemerintah UK harus lewat konsultasi dengan Brussels (markas E.U.). UK dengan segala kelebihan dan kekayaan sejarahnya merasa ini bukan jati diri mereka.

Ratusan tahun mereka menjajah dunia, kenapa sekarang diatur-atur? Penentuan kebijakan jadi mesti mengakomodasi collective interest EU, bukan hanya kepentingan UK. Ada banyak sekali bola panas yang dimainkan, mulai dari menganggap bahwa sumbangan kewajiban  UK sebesar 350 juta poundsterling seminggu ke E.U. bisa dialokasikan ke bidang kesehatan, isu penghapusan bus double-decker dari UK, dan sebagainya.

Salah satu hoax yang diiklankan di transportasi umum

Ada sebuah ide tentang “Total Control” dan “UK Supremacy” yang coba ditanamkan oleh para aktivis Leave kepada warga yang kurang akses informasi. Banner provokatif dan misleading banyak diletakkan di tempat umum. Kejayaan masa lalu dijadikan sebagai alat untuk membakar semangat patriotik para warga lansia (veteran) dan juga kaum yang hidup berada dibawah garis kemiskinan.

Kemudian bola panas yang kedua adalah masalah imigrasi. Berhubungan dengan kurang leluasanya penentuan kebijakan tadi, sebagai anggota EU tentu UK harus menaati peraturan dibawahnya. Termasuk soal kebijakan imigrasi.

Dalam kamus pemerintahan, ada sebuah istilah yang namanya net migrationNet migration adalah istilah yang menyatakan jumlah warga imigran yang masuk ke suatu negara dan warga negara tersebut yang keluar setiap tahunnya.

Saat ini, net migration UK sendiri adalah 330,000 dalam satu tahun. Rincian yang masuk ke UK adalah 184,000 warga EU dan 188,000 warga non EU. Sedangkan ada 39,000 warga UK yang keluar.

Pos border controls di salah satu bandara di UK

Jumlah ini membuat banyak warga Inggris keberatan, dan menjadi isu yang getol dimainkan. Paranoid yang menjalar adalah kecemasan bahwa banyaknya imigran akan membuat lapangan pekerjaan menjadi semakin berkurang, alokasi dana negara menjadi terbagi, hingga identitas UK yang akan semakin tergerus.

Lucunya, argumentasi dari kelompok orang yang mem-voting untuk tetap remain pun gak juga menguatkan bargaining position EU di mata UK. Instead of memperkuat posisi EU, pihak yang menginginkan remain lebih menekankan pada potensi kerugian yang akan dialami UK jika mereka memutuskan remain. Dari sekian banyak alasan partai sayap kiri untuk meminta UK bertahan, paling cuma isu seperti mencoba menghindari political and financial catastrophe. Jawaban yang sangat diplomatis menurut gue.

Yep, mereka se gakpercaya itu sama EU.

Ada alasan yang sangat kuat kenapa Inggris adalah negara yang memutuskan untuk tidak menggunakan mata uang euro dan juga tergabung dalam Schengen Agreement ketika masih jadi anggota EU (sebuah perjanjian yang menghapus border internal antar negara anggota EU >> lo pergi antar negara di Eropa gak perlu lewat border khusus).

Apa efek dari Brexit?

Kalo dari efek sendiri sebenernya gue sedikit bingung harus membahas dari sisi mana. Tapi gue akan mengambil stance awal dari hubungan multilateral antara UK dan EU.

Sebagai penyumbang 1/6 dari pemasukkan EU setiap tahunnya, jelas Brexit membawa dampak ekonomi yang sangat besar buat EU. Kalo dianalogikan, ini kayak California dan Florida membawa pergi segala startup yang ada didalamnya keluar dari Amerika Serikat.

Secara kekuatan geopolitik, EU akan semakin berkiblat kearah Jerman daripada sebelumnya. Ada beberapa gerakkan oposisi di dalam negara EU yang juga udah bertahun-tahun menjadi anti-thesis terhadap EU. Ya mirip mirip di UK gitu.

Partai partai tersebut tentunya bakal menjadi terinspirasi dari keberhasilan UK keluar dari EU menggunakan isu sentimen terhadap imigran. Jika hal tersebut berhasil untuk UK, tentu ada kemungkinan dapat berhasil juga untuk negara lain.

Sedangkan efek dari perspektif UK sendiri harus diakui, cukup banyak jeleknya kalo boleh jujur.

David Cameron dan Perdana Menteri Theresa May

Secara struktural politi dalam negeri, David Cameron langsung menyatakan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai Perdana Menteri. Dia adalah pemimpin dari Partai Konservatif yang mengupayakan UK untuk remain di EU.

Posisinya digantikan oleh Theresay May yang, anehnya, juga merupakan tokoh yang menginginkan UK untuk remain di EU. Dan akhirnya, sisi politis dan kongkalikong dalam kampanya leave pun mulai terbuka ke permukaan.

Departemen Pemerintahan UK saat ini mulai diisi oleh para mastermind dibalik kampanye leave kemarin. Liam Fox, eks Menteri Pertahanan (defence secretary) dan sekaligus salah satu figur dibalik kampanya leave, diberikan posisi Menteri Perdagangan Internasional (international trade secretary). Kemudian Boris Johnson, pemimpin kampanye resmi leave, diberikan mandat Menteri Luar Negeri (foreign secretary) oleh May.

Image result for boris johnson liam foxTrio Brexiteers
(Ki-Ka : Liam Fox, Boris Johnson, David Davis)

Penunjukan para Brexiteers ini ditujukan untuk mencarikan UK perjanjian-perjanjian lainnya yang menguntungkan negara. Ini karena secara politis UK lagi ada dalam situasi yang sulit.

Secara ekonomi, tentunya UK tidak bisa berpartisipasi senyaman dulu dalam sirkulasi pasar bebas yang ada di EU. EU, dengan regulasinya, memperbolehkan adanya pergerakan bebas dalam barang, jasa, dan modal yang berada didalam EU. Untuk menunjukkan ketegasan, tentunya EU gak bakal membiarkan UK mendapatkan hak penuh setelah cabut dari EU.

Pemutusan hubungan dengan EU membuat UK menjadi kurang atraktif lagi karena pilihan seorang businessman menjadi semakin terbatas disana. Berdasarkan rumor, akan banyak perusahaan multi-national company yang akan cabut dari sana karena kemudahan berbisnis yang selama ini didapat menjadi berkurang.

Efek jangka pendeknya, poundsterling mengalami penurunan nilai terendah nya dalam 30 tahun terakhir. Kenapa? Karena investor sudah berbondong-bondong mencari currency yang lebih stabil, dan sekarang US dollar sedang perkasa-perkasanya.

Lalu bagaimana dengan kebijakan imigrasi?

PM Theresa May telah mencanangkan target untuk mengurangi net migration sebesar 70% dari 330,000 menjadi kurang dari 100,000. Cuma ada 100,000 imigran yang bisa masuk ke UK nantinya.

Kapan Brexit Berlaku?

Disinilah bagian menariknya. Semua penjabaran mengenai efek dari Brexit diatas memang ada yang langsung terjadi dan ada yang tidak. Efek kayak perubahan struktur pemerintahan, menurunnya nilai tukar poundsterling, dan efek minor lainnya sudah terjadi dan sedang terjadi.

Lalu gimana dengan kesepakatan hubungan multilateral dengan EU? Kayak perubahan regulasi untuk imigran. Kapan itu terjadi?

Jawabannya adalah “Article 50 Lisbon Treaty“.

Article 50 adalah sebuah perjanjian atau mekanisme untuk mengeluarkan sebuah negara dari EU. Ditandatangani baru aja pada tahun 2009 di Kota Lisbon, ini (tentu aja) adalah pertama kalinya Article 50 benar-benar digunakan untuk mengeluarkan suatu negara dari keanggotaan EU.

Untuk benar-benar memulai proses pemisahan dari EU, Article 50 harus diaktifkan. Namun tidak bisa diaktifkan secara sepihak oleh Pemerintah. Secara regulasi, ada berbagai tahap yang harus dilalui mulai dari mendapatkan persetujuan UK Supreme Court (MK nya Inggris).

Dan berdasarkan keputusan dari sidang yang diadakan Januari kemaren, UK Supreme Court memutuskan bahwa May harus mengadakan voting di kalangan Parlemen terlebih dahulu sebelum bisa mengaktifkan Article 50.

Jika sudah diaktifkan, lalu mau gimana?

Nah, Article 50 ini mengakomodasi forum mediasi dan negosiasi antar kedua belah pihak (UK dan EU). Setelah 43 tahun bergabung, tentunya ada puluhan ratusan atau bahkan ribuan regulasi yang mengikat antar kedua negara dalam berbagai bidang.

Brexit tidak hanya memberikan efek skala besar dalam peraturan yang sudah dibangun, tetapi juga hubungan di masa yang akan mendatang. Maka dari itu, Article 50 adalah jembatan mediasi dan negosiasi untuk mencari persetujuan terbaik dengan seminimal mungkin merugikan kedua belah pihak.

Secara hukum, Article 50 menetapkan deadline selama dua tahun semenjak tanggal pengaktifan dimulai. Jika Article 50 dapat diaktifkan pada akhir Maret 2017 sesuai dengan rencana Theresa May, maka efek Brexit diprediksi akan mulai terasa dalam full effect pada musim panas 2019.

Bisa gak tiba tiba UK berubah pikiran sebelum 2019?

Kemungkinannya sangat kecil, tapi bisa secara teknis. Pokoknya, selama Article 50 belum diselesaikan secara komplit, maka pembatalan masih bisa terjadi.

Tapi kalau membatalkan pengunduran diri itu mendekati akhir dari Article 50, situasi ini akan meninggalkan UK dalam posisi yang sangat kritis.

Karena mereka akan bergabung dengan EU tanpa perjanjian hukum yang kuat (sebagian besar dari perubahan peraturan sudah diimplementasikan).

Mungin gak in the future UK bergabung dengan EU lagi?

Pertanyaannya, kenapa enggak? Dengan stabilitas dunia yang makin gak karuan dan kejutan terangkatnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika, siapa yang bisa bilang kalau UK gak mungkin balik?

Aliansi USA dan Rusia sudah menjadi isu yang ditekankan dalam kalangan anggota EU. Dan UK saat ini dalam posisi yang sangat vulnerable atau rawan akan serangan dari kedua bloc (iya, bloc. bukan blog atau blok) yang berbeda.

Untuk secara regulasi, iya UK bisa balik ke EU. Di tahun yang sama dengan pembuatan Article 50, EU juga memutuskan untuk merancang yang namanya Article 49 Lisbon Treaty. Nah Article 49 ini mengatur segala regulasi untuk negara yang ingin bergabung kembali dengan EU. Jadi, tetep ada kemungkinan kok bahwa UK akan kembali ke EU selama kalian masih hidup.

******

Demikianlah tulisan gue tentang Brexit, semoga bisa sedikit membantu untuk mengerti apa yang sedang terjadi di sana. Silakan dikritik dan ditambahkan jika ada yang salah.

Sudah ada banyak banget tulisan dan artikel di internet mengenai Brexit yang bisa dijadikan referensi tambahan. Baca di website yang kredibel dan up-to-date seperti The Guardian, BBC, NYTimes, dan masih banyak lagi. Hindari tabloid seperti Daily Mail, Piyungan, apalagi Koran Lampu Merah.

Jangan malas mencari dan teruslah belajar teman-teman. Hope you guys have a great day indeed.

*Sekarang, gue mau buka instagramnya Raisa dulu.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s