Review Film – John Wick 2

Oke, meskipun udah malem kayaknya gue harus memaksakan diri untuk menulis sebelum semangat gue menguap gak bersisa (yah, gue juga mahasiswa biasa yang punya tugas..).

Kali ini, gue akan me-review sebuah film crime berjudul John Wick 2. Film ini bintang utamanya adalah Keanu Reeves, pemeran Neo dalam trilogy Matrix di awal abad 21 yang lalu. Selain itu di film ini juga ada teman lama Keanu Reeves, Laurence Fishburne, pemeran Morpheus dalam trilogy Matrix.

Oh iya, gue mau bilang. Jadi film ini sebenarnya punya rating dewasa dengan batas umur 21 tahun keatas. Kalo misalnya kalian masih dibawah dua puluh satu tahun seperti gue (tujuh belas tahun buat yang penasaran..), kalian bisa meminta tolong orang asing di bioskop yang berusia 21 tahun untuk membelikan tiketnya, seperti yang gue lakukan kemarin. (jangan ditanya, malu maluin sumpah)

Oke lanjut.

Sebelumnya gue ceritain dulu secara singkat ceritanya.

John Wick ini berkisah tentang seorang hitman yang bekerja pada sebuah organisasi pembunuh di masa lalu. Dalam organisasi pembunuh ini, setiap klien yang datang bisa membuat order ingin membunuh siapa dan memilih siapa pembunuhnya.

Serius, keren banget gak sih? Selama hidup gue, order paling sadis yang pernah gue buat adalah memesan 1 paket super besar 1 + 1 oriental bento pada pukul 12 malam, pakai Gojek.

Abang-abangnya gue kasih tips juga btw. Soalnya waktu itu ujan.

Konflik yang terjadi adalah ternyata John sendiri sudah ingin pensiun, namun ada seorang klien yang ingin misi pembunuhan ini dituntaskan oleh JW. John memiliki kontrak dimana ia harus memenuhi permintaan kliennya untuk membunuh, kalau enggak maka hidupnya yang akan terancam.

Sebelum lanjut ke review sebenarnya, gue mau buat disclaimer dulu: Gue BUKAN movie junkie. Kalo lo mengharapkan gue review dari sinematografinya, pengambilan gambar, ataupun storyline, then be ready to get disappointed.

Sebagai penonton awam, gue akan menilai film dari satu faktor biasanya, faktor entertainment. I mean, what do you expect from a crime thriller? Plot twist?  Cool sound effect? Beautifully written script?

No.

You want blood. And human flesh on the floor. A lot.

Dan, pendapat gue? I haven’t had this much fun watching an action movie since the release of John Wick back in 2014.

Buat kalian yang udah nonton John Wick, pasti sudah tau betapa intense nya pertarungan laga di film pertama tersebut. Sekarang, kalikan kekerasan yang ada di film pertama tiga kali, dan lo dapet John Wick 2.

Pertama mulai dari segi cerita. Singkat aja ya, menurut gue alur cerita yang kedua lebih berbobot dari yang pertama. Lebih padet dan satisfying aja gitu menurut gue. Mungkin karena durasi film yang juga jauh lebih lama. Film ini durasinya hampir 30 menit lebih lama dari John Wick 1.

Gue cukup puas lah sama alur ceritanya. Lanjut.

Kedua, gue akan berbicara dari segi karakter. Buat kalian yang udah tahu, pasti mengerti lah karakter jagoan satu ini. Agak sedikit beda dengan pemeran utama film lain, biasanya sang pemeran utama akan back off membiarkan musuh tetap hidup ketika pemeran utama sudah berada di posisi yang unggul.

Berbeda dengan John Wick.

If he marks you at the beginning, you best believe he will find you and kill you. No negotiation is necessary, because you already are a dead man by the time he made his decision.

Meskipun sang penulis mencoba menyeimbangkan karakter John dengan memberikan sedikit glimpse mengenai kehidupan pribadi nya yang kelam, menurut gue itu cuma buat bumbu doang. Gue duduk di bioskop untuk menonton orang gila yang gak kenal takut, dan itulah yang gue dapatkan.

Kalo Superman ngamuknya kayak begini, mungkin gak bakal ada sequel. Musuhnya udah dilaser semua kali ya.

Kemudian untuk senjata. Kalo lo penggemar pistol ataupun senjata tajam lainnya, menurut gue lo akan cukup terkejut karena variasi yang ditampilkan cukup banyak. Senjata yang gue ingat cuma model-model Benelli, AR-15, dan Glock. Kemudian untuk pisau sendiri ada Microtech OTF. Dan jenis-jenis itu ada banyak lagi (sayangnya gue bukan pecinta senjata, jadi gak inget-inget banget).

Yang kedua adalah adegan laga. Seperti yang gue bilang sebelumnya, film ini benar-benar seru. Mungkin bisa kalian bandingkan dengan seberapa kencang adrenalin kalian bergejolak saat menonton The Raid. Serius.

Pertarungan menggunakan senjata yang benar-benar definisi dari one man army. Kemudian cara-cara John membunuh ketika gak pake senjata sangat menarik. Dude killed 3 people using a god damn pencil.

A pencil.

Gue sangat menunggu film John Wick 3 (jika ada) dimana Chad Stahelski (sutradara John Wick 2) sudah kehabisan akal dan menjadikan cangkul sebagai senjata darurat tokohnya.

“Wah, kepalamu kurang subur. Sini saya cangkul dulu.”

Atau Iron Man alias Pria Setrika.

“Wah, mukamu kusut. Sini disetrika dulu biar rapi”

Seni pertarungan menggunakan pisau (close range combat) bener-bener menghasilkan koreografi yang indah dan menegangkan.

Bertarung melawan banyak orang membuat lama kelamaan John Wick babak belur dan handicapped. Justru ini yang membuat gue gigit bibir terus (biasa, gue cupu..) karena pertarungan jadi terlihat lebih berimbang…

(Canda guys, John Wick terlihat immortal sekali di film ini…)

Ini harusnya menjadi standar film laga. Sadis dan brutal. Karena bahasa universal dalam semua film action adalah kekerasan. Gak mungkin kan film action isinya orang duduk-duduk di selasar sambil ngopi ngomongin arti hidup atau curhat gebetan jalan sama cowok lain.

Violence is the language of action movies. And John Wick is a native speaker.

****

Jadi, apa yang gue suka dari film ini?

Mentalitas membunuh seorang John Wick. Koreografi adegan aksi yang seru. Cerita yang simpel padat jelas.

Kalo kalian mencari cerita yang bagus ataupun plot twist, film ini bukan buat lo. Tapi kalo lo mencari hiburan, entertainment, dan adrenalin, this will fit you well. 

Tips gue adalah : Do not expect anything. Just sit and watch.

Nilai dari gue berdasarkan ekspektasi personal: 8.5/10

Akhir kata, setelah membaca ini, gue harap kalian akan menggerakkan pantat kalian dan pergi ke bioskop terdekat. Beli tiket dan tontonlah film ini.

Karena menurut gue, film ini sangat bagus sekedar untuk refreshing sebelum menghadapi kejamnya tanggung jawab masing-masing.

Tunggu apa lagi? Nonton yuk?

.

PS : Kalo lo masih punya otak (dan hati), jangan bawa anak kecil menonton film ini. Vulgar dan brutal.

 

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s