Apresiasi Untuk Orangtua

Tujuh bulan blog ini udah terbit, dan ada begitu banyak hal yang sudah gue bahas dan posting. Mulai dari politik, mimpi-mimpi yang tetap hidup, review film, dan pandangan gue terhadap sebuah topik.

Tapi gue melupakan sesuatu yang penting.

“Kalau gue tidak dilahirkan dengan orang tua gue yang sekarang, kira-kira apakah gue masih jadi Evan yang pengen selalu tau dan keras kepala?”

Entahlah, itu cuma pertanyaan hipotesis yang tiba-tiba muncul di kepala gue jam 2 pagi dinihari. Apapun itu, postingan kali ini gue cuma ingin berterimakasih dan mensyukuri. Gue ingin berhenti sejenak dari rutinitas yang ada. Berhenti untuk mengucapkan rasa terimakasih gue kepada kedua orangtua – something I don’t think I’ve approriately done to date.

Gue dibesarkan dalam sebuah keluarga yang lempeng atau lurus-lurus aja. Sebuah keluarga yang jarang sekali ngomongin perasaan antara satu dengan yang lain.

Ucapan-ucapan “Love you Dad,” atau “Love you Mom” gak pernah terjadi di keluarga gue. Pembicaraan-pembicaraan sentimental mengenai perasaan jarang sekali keluar di antara kami semua. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi karakter gue ketika beranjak dewasa.

I’m not a family man. At all.

Tapi itu tetap tidak menghalangi gue untuk mengucapkan rasa terimakasih gue kali ini. Kepada kedua manusia yang memiliki jasa paling besar dalam membentuk gue menjadi sekarang ini, gue ucapkan terimakasih dan doa-doa kecil yang selalu gue panjatkan dalam ibadah gue.

Terimakasih Papa karena selalu percaya bahwa Evan adalah anak yang cerdas dan bisa berkompetisi dengan orang lainnya. Untuk selalu mendukung Evan dalam mencapai impian gue. Dan untuk percaya kalo Evan memiliki kelebihan, bahkan ketika aku langganan dapet ranking 20 di SMA.

Terimakasih Mama yang dulu sejak kecil selalu mau Evan repotkan dengan karakternya yang minta ini minta itu. Untuk selalu memenuhi kebutuhan fisiknya berupa asupan bernutrisi. Untuk selalu mau membelikan tamiya yang Evan pengen ketika gue SD.

Terimakasih Papa yang selama ini selalu mau mengantarkan Evan kemanapun yang Evan mau. Untuk menjadi ‘supir’ dalam keluarga 24/7 karena waktu itu gak ada lagi yang bisa nyetir. Gak pernah bilang “nggak” untuk nganterin kemanapun ditengah macetnya Jakarta.

Terimakasih Mama yang meskipun selalu memarahi Evan sehabis bagi rapor waktu sekolah, tapi tidak henti-hentinya memercayai bahwa Evan bisa memberikan peningkatan di semester selanjutnya (hanya untuk gue kecewakan akhirnya). Sama seperti Papa, yang selalu percaya kalo Evan memiliki kelebihan dan bakat terpendam.

Terimakasih Papa yang selalu menyuruh Evan untuk bangun pagi, mandi pagi, dan rapihin kamar di pagi hari bahkan ketika weekend. Ketika Evan mencari sebuah inspirasi untuk menjadi disiplin, orang pertama yang terpikirkan adalah Papa. Evan bersyukur bahwa Papa mengajarinya dengan contoh, bukan dengan kata-kata.

Terimakasih Mama yang dengan segala kelembutannya telah melakukan perannya dengan sangat baik sebagai tempat sandaran anaknya ketika Evan sedang ada masalah. Untuk menstabilkan emosi anaknya, dan menjadi cahaya ditengah sibuknya rutinitas anggota keluarga di ibukota.

Terimakasih Papa untuk selalu tegas dalam melarang Evan mencoba hal-hal tertentu. Semakin kesini Evan semakin merasa bahwa larangan-larangan itu memiliki alasan yang sangat kuat. Beruntung Evan tidak masuk kedalam perangkap itu karena begitu kerasnya Papa dalam mempertahankan prinsip dan argumentasinya.

Terimakasih Mama untuk tidak henti-hentinya mengingatkan Evan untuk selalu teliti, disiplin, dan tidak teledor. Untuk tidak lelah-lelahnya mengingatkan agar tidak menjadi seorang yang pelupa. Untuk selalu memperhatikan barang bawaan Evan ketika sedang bepergian.

Terimakasih Papa untuk selalu menceritakan pengalaman masa lalunya menjadi seorang juara catur nasional junior. Cerita-cerita Papa benar-benar menginspirasi Evan dalam mencapai impiannya. Maaf kalau Evan belum bisa mencapai prestasi itu.

Terimakasih Mama untuk mengajari bagaimana caranya menjadi cowok yang mampu menarik perhatian cewek. Meskipun masih gini-gini doang dan belom keliatan hasilnya, sabar aja ya ma. Insha Allah dapet yang kayak Raisa, aamiin.

Dan yang terpenting,

Terimakasih Papa yang telah memberi nafkah dari Evan bernafas di dunia ini hingga sekarang. Yang telah menjadi tulang punggung tidak hanya untuk keluarga inti, tetapi juga sanak saudara nya. Yang telah dengan begitu tulusnya membantu orang-orang di sekitarnya dan mengajari Evan pentingnya berbagi rezeki.

Terimakasih Mama yang telah mengandung Evan selama sembilan bulan lamanya dan melahirkan hingga Evan bernafas di dunia ini. Merawat Evan bahkan ketika wujudnya belum nampak di dunia ini. Bahkan tanpa menyebutkan ucapan terimakasih-terimakasih sebelumnya, jasa satu ini aja gak akan pernah terbayar sampai kapanpun.


Itulah sedikit ucapan terimakasih gue untuk jasa-jasa kedua orangtua. Tentu saja, ada begitu banyak hal lainnya yang tidak bisa gue sebutkan disini. Jasa orangtua terlalu banyak dan insulting sebenarnya untuk diringkas dalam satu postingan kecil.

Tapi semoga sudah cukup merepresentasikan rasa syukur gue.

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa gue tiba-tiba nulis begini? Ya, cukup simpel sebenarnya.

Berada 500 kilometer jauhnya dari rumah membuat kesempatan pulang menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu. Dan setiap kali gue menginjakkan kaki di rumah, gue selalu merindukan nyamannya berada satu atap dengan orang-orang yang paling gue sayang.

Sesederhana itu.

Kesempatan berinteraksi, apalagi mengucapkan terimakasih menjadi sangat jarang untuk dilakukan. Dan sepertinya tidak ada lagi media yang lebih tepat untuk mengatakan ini selain telfon ataupun tulisan rinci di blog.

Just to show them that I actually care. To say I’m sorry that I never say this out loud.

To say “I love you, Mom and Dad” because I really mean it.

Karena cepat atau lambat, kita tidak bisa selamanya bersama mereka. Orang tua gue sudah berusia 53 (Papa) dan 51 (Mama). 20 tahun lagi, mereka akan berkepala 7. 30 tahun lagi, kepala 8. Manusia berumur. That’s the fact that we have to deal with. 

Lakukan sekarang. Selagi ada, selagi bisa.

 

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s