Gender Equality di Lingkungan Kerja

Ehmm.. oke. Sebelumnya saya memohon maaf karena kolom #BusinessTalk di blog saya sempat cuti selama 6 minggu karena satu dan lain hal. Akhir-akhir ini ada begitu banyak hal baik yang berlalu di hidup saya dan cukup menyita fokus sehari hari. Sebagai seorang penulis amatir, seringkali ada beberapa faktor yang tidak pas untuk mendorong saya sendiri dalam menulis.

Kadang kala, saya memiliki waktu yang cukup tetapi kurangnya motivasi untuk membaca atau melalukakan mini riset terlebih dahulu. Pada kesempatan lainnya, malah waktu luang yang tidak kunjung saya temukan ketika sebuah topik brilian menghampiri ruang berfikir saya.

Tetapi tidak apa-apa. Hidup memang suka memberi kita pelajaran dengan cara yang unik, bukan?


Pada edisi ketiga dari kolom #BusinessTalk ini, saya ingin sedikit menjernihkan topik bahasan dan bacaan saya secara pribadi dan membahas sesuatu yang lebih general dan bermain dengan alam bawah sadar kita. Sesuatu yang sangat besar kemungkinannya seringkali kita temui sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun di institusi pendidikan, namun kurang menjadi prioritas bagi mereka yang terlalu nyaman dengan status quo.

Gender Equality.

Image Source: McKinsey.com

Sebelumnya, izinkan saya memberikan sebuah disclaimer. Saya adalah seorang mahasiswa yang tidak memiliki pengalaman kerja ataupun telah melakukan pengamatan mengenai adanya jurang perilaku kepada kedua gender di lingkungan kerja. Maka dari itu, saya akan berusaha merangkum dan menerjemahkan berbagai data dan penelitian yang ada di internet sebagai santapan ilmu kita bersama. Saya memang bukan peneliti atau pun korban langsung dari fenomena ini. Tetapi saya percaya bahwa usaha kolektif adalah cara yang ampuh untuk mendukung kesetaraan gender. Dan suatu perang selalu dimulai dari mengenal apa yang kita perangi.

Now, let’s get to it.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh National Center for Education Statistics (sebuah badan statistik milik Departemen Pendidikan AS), faktanya 57 persen dari lulusan sarjana didominasi oleh perempuan. Hal ini tentu memberikan angin segar bagi mereka yang berjuang untuk mengupayakan kesamaan gender, namun sayangnya tidak berkorelasi linear terhadap dampak yang ditimbulkan dalam industri kerja. Padahal, data dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa memaksimalkan kesetaraan gender, terutama terhadap wanita, berpotensi meningkatkan GDP di seluruh negara di dunia sebesar 12 triliun US dollar pada tahun 2025.

leanin3      Print

McKinsey dan LeanIn.org (sebuah inisiatif untuk mendorong gender equality di berbagai industri yang diinisiasi oleh Sheryl Sandberg, COO Facebook) bekerja sama untuk melakukan sebuah penelitian yang bernama ‘Women in the Workplace 2017‘. Kegiatan ini bertujuan untuk mengobservasi  pola dari keadaan yang dialami kedua gender dan mencari akar masalah yang timbul dari interaksi internal perusahaan dan akhirnya mampu menjelaskan keadaan kesetaraan gender saat ini. Untuk melakukan studi ini, mereka menghimpun data dari 222 perusahaan di Amerika dengan total jumlah pegawai mencapai 12 juta tenaga kerja serta wawancara secara kualitatif dengan lebih dari 70.000 pegawai dan responden yang tersebar di berbagai industri.

Apa yang terjadi di lingkungan saat ini?

WIW_2017_charts_download-01

Beberapa data kunci menunjukkan bahwa adanya kesetimpangan jumlah wanita dalam susunan sebuah perusahaan. Tentunya, angka dapat bervariasi tergantung pada jenis industri yang menjadi topik pembahasan. Dari data di atas, dapat dilihat bahwa jumlah pria sangat mendominasi di posisi high level managers, yaitu berkisar 80% untuk C-Suite dan 79% untuk Senior Vice President. Hal ini berbanding kontras dengan wanita dimana, semakin tinggi jabatannya, jumlah wanita malah semakin sedikit. Ironisnya, fenomena ini tetap terjadi meskipun 57% lulusan sarjana adalah perempuan.

Data tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak data statistik yang menunjukkan betapa besarnya jurang ketimpangan jumlah perempuan dan laki laki dalam sebuah lingkungan kerja. Dan riset menemukan bahwa timpangnya jumlah ini bukan dikarenakan kurangnya minat perempuan pada pekerjaan atau pun masalah kemampuan. Berikut saya kutip dari website resmi ‘Women in the Workplace’.

“Women remain significantly underrepresented in the corporate pipeline. From the outset, fewer women than men are hired at the entry level. At every subsequent step, the representation of women further declines, and women of color face an even more dramatic drop-off at senior levels. This disparity is not due to company-level attrition or lack of interest: women and men stay at their companies and ask for promotions at similar rates.”

Apa penyebabnya?

Mengulang apa yang sudah disampaikan di kuote tersebut, riset menjelaskan bahwa ketimpangan jumlah pria dan wanita tidak disebabkan karena kecenderungan suatu gender untuk mengundurkan diri atau pun frekuensi setiap gender meminta promosi. Sebelumnya, saya termasuk beberapa pihak yang skeptis akan hal ini, dan menganggap bahwa jurang tersebut disebabkan oleh mayoritas wanita yang lebih memilih untuk settle dan lebih berkaitan dengan keberanian dan kemampuan diri. Namun angka yang didapatkan dari survey tersebut seolah menghancurkan asumsi saya bak Toyota Fortuner milik Setnov yang dibuat tak berbentuk oleh tiang listrik.

Sebagai tindak lanjut, McKinsey dan LeanIn.org mencoba menemukan alasan yang dapat menjelaskan mengapa ketimpangan ini terjadi. Riset pun mendukung bahwa diskriminasi terhadap suatu gender tidak terjadi begitu saja hanya karena ketidaksukaan antar individu, tetapi juga berasal dari bagaimana berbagai faktor dalam lingkungan bereaksi menanggapi hal tersebut.

Maka tidak terlalu mengejutkan memang ketika hasil data menunjukkan bahwa akar permasalahan dari kesetaraan gender adalah adanya ketidaktahuan karena pihak yang terlibat untuk menyelesaikan masalah ini melihat konflik dengan lensa yang berbeda. Seperti yang dikutip dari website resmi riset, pria dan wanita melihat kesetaraan gender di lingkungan kerja mereka dengan cara yang berbeda. Untuk mendukung konklusi tersebut, lihat juga data di bawah ini sebagai acuan.

“When it comes to how women and men see the state of women and gender-diversity efforts, there are striking differences.”

WIW_2017_charts_download-03

McKinsey dan Lean In mencoba mencari akar permasalahan dan fenomena yang mungkin dapat menjelaskan mengapa keadaan menjadi seperti sekarang ini. Berikut adalah 7 temuan mereka dalam penelitian kali ini.

  1. Standar untuk kesetaraan gender terlalu rendah.
    50 persen pria dan 1 dari 3 wanita, yang bekerja di perusahaan dimana 1 dari 10 pemimpin eksekutifnya wanita, menganggap wanita sudah terwakilkan dengan baik dalam hal kepemimpinan di perusahaannya.
  2. Wanita lebih susah untuk dipromosikan
    Wanita cenderung 18 persen lebih tidak mungkin dipromosikan daripada pria. Jika wanita entry level dapat dipromosikan dengan frekuensi yang sama dengan rekan prianya, maka jumlah wanita di C-Suite dan SVP bisa jadi 2 kali lebih banyak dari saat ini.
  3. Pria lebih mungkin mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa meminta
    Faktanya, wanita dan pria meminta promosi dan kenaikan gaji pada rate yang sama. Namun tetap saja, pria lebih mungkin mendapatkan tapa yang mereka mau tanpa meminta (biasanya dikarenakan jabatan mereka cukup strategis).
  4. Wanita kurang mendapat dukungan dan saran dari seniornya untuk maju
    Wanita cenderung lebih jarang mendapatkan saran atau dukungan langsung dari pimpinan senior nya dan mereka yang mendapatkan, jauh lebih mungkin untuk naik pangkat.
  5. Wanita cenderung kurang optimis dapat mencapai puncak jabatan
    Wanita cenderung tidak berambisi seperti pria dalam mencapai posisi puncak.
  6. Pria kurang berkomitmen dalam mencurahkan usaha mereka untuk mencapai kesetaraan
    Pria cenderung tidak menempatkan kesetaraan gender dalam prioritas personal pertama mereka dikarenakan mereka lebih berfokus dalam memperbaiki performa individu.
  7. Para wanita masih sering bekerja double shift
    54 persen wanita yang berkarir mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah dibanding partnernya, sedangkan hanya 22 persen pria yang seperti itu. Ketika pasangan memiliki anak, wanita menjadi 5,5 kali lebih mungkin mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah dibanding partnernya.WIW_2017_charts_download-06

Apa yang bisa kita lakukan?

Sebelum membaca lebih dalam terkait topik ini, saya merupakan salah satu pria yang cukup skeptis dengan isu kesetaraan gender ini. Ketika saya dihadapkan dengan besarnya jurang angka antara jumlah wanita dan pria dalam sebuah lingkungan kerja, saya selalu mengkaitkan angka tersebut dengan alasan lain seperti..

“Ah, paling banyakan laki laki gara-gara kualifikasi pekerjaannya kali, atau bisa aja emang kebetulan pria yang lebih berkompeten untuk dipilih..”

Akan tetapi, seperti sebuah pepatah yang berkata bahwa melihat berarti meyakini, asumsi saya tersebut kemudian dihancurkan bak sebuah toyota fortuner milik Pak Setya Novanto yang menabrak sebuah tiang listrik. Jujur saja, saya tidak terlalu mendukung feminisme karena ada beberapa nilai yang tidak saya setujui. Namun fenomena ini tentu sangat mengganggu saya karena hal ini termasuk demokrasi. Bagi saya, demokrasi berarti adalah proses memilih seorang kandidat untuk sebuah posisi berdasarkan kemampuannya semata, bukan berdasarkan referensi ke hal hal yang tidak dapat ia kendalikan.

Seperti disclaimer yang saya taruh pada awal artikel ini, saya bukanlah pekerja atau peneliti akan hal ini. Saya hanya mahasiswa biasa semester 7 yang kebetulan, tanpa aral melintang, menemukan topik yang sangat menarik ini. Pun saya tidak mengetahui apapun tentang bagaimana cara mengusahakan kesetaraan gender di lingkungan kerja professional. Tetapi, saya percaya bahwa keberhasilan ini harus dimulai dari usaha setiap insan, sesuai dengan perannya, sesuai dengan waktunya.

Hal pertama yang dapat seorang mahasiswa lakukan untuk berkontribusi dalam persoalan ini adalah menyadaru masalah ini. Jika kita sudah menyadari adanya gender inequality, maka langkah selanjutnya adalah kita harus tegas dan menekankan betapa pentingnya permasalahan ini untuk diselesaikan. Hal ini berlaku terutama untuk pria.

Wanita yang berteriak menuntut gender equality tak ubahnya seperti sebuah tim sepakbola yang gonggongan kepada asosiasi sepakbola karena merasa bahwa tim mereka telah dicurangi wasit. Bukannya dianggap serius, merek malah dianggap oppressing! 

Sedangkan, pria yang berteriak menuntut gender equality bisa dianalogikan seperti suporter sepakbola seluruh Indonesia yang menuntut PSSI karena telah merugikan Bali United FC. Opini mereka akan lebih didengar karena datangnya dari pihak outsider yang bukan korban. Jika kepedulian datang dari mereka yang tidak terkena dampaknya, maka akan lebih mudah masalah ini dianggap seperti krisis yang nyata.

Yang terakhir adalah mulai sedikit demi sedikit menerapkannya dalam kehidupan perkuliahan. Pada tahun 2011, McKinsey Global menemukan data bahwa kandidat pria dilihat dari potensinya, sedangkan wanita dilihat dari rekam jejaknya. Seringkali tindakan diskriminasi terhadap perempuan berasal dari implicit bias. 

Sebagai contoh, seringkali dalam menilai kandidat wanita sebagai ketua, banyak yang meragukannya karena wanita lebih mudah emosional dalam keadaan penuh tekanan. Saya tidak bilang bahwa hal ini salah, tetapi hal hal kecil inilah yang mesti diakui cukup menghambat usaha kolektif untuk mencapai status kesetaraan gender dalam sebuah lingkungan.

Mungkin memang yang paling sulit dalam melakukan perubahan bukanlah bagaimana menciptakan sistem yang foolproof, tetapi tentang bagaimana pihak yang terlibat mampu merombak sedikit demi sedikit persepsi primordial yang menjadi blokade dalam sistem sosial untuk berkembang mencapai potensi maksimalnya. Perlu ditekankan lagi bahwa gender equality tidak hanya melulu tentang wanita, tetapi juga bagi pria sekalipun. Maka dari itu, saya pun percaya bahwa tidak ada cara lain kesetaraan gender dapat tercapai selain memulai menyadari peran kita dan mulai bertindak.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s