The Immortal Luxury: Apple

Kemewahan sudah bukan barang baru dalam kehidupan dan alamiah seorang manusia. Sejak awal kita membuka mata, kemewahan dilukiskan sebagai sebuah karakter yang mampu memberikan gap antara seseorang atau suatu kelompok individu dengan kawanan populasi lainnya. Jujur saja, kita semua menyukai kemewahan, entah kita mau mengakuinya atau tidak.

  • Sebagian wanita suka berpergian keluar negeri dengan membawa pulang tas ber-merk premium seperti Chanel, Michael Kors, Louis Vuitton, dan Balenciaga.
  • Mereka yang sukses dan punya pundi pundi tebal biasanya akan membeli rumah yang luas, jet pribadi, dan mobil sport.
  • Seorang pecinta musik dan film tentunya akan dengan senang hati menggelontorkan dana lebih untuk membeli gadget dengan kualitas suara dan visual yang baik.
  • Kelompok yang mencintai makanan akan lebih royal dalam mengeluarkan uang demi membeli makanan yang tergolong mewah, unik, atau memiliki rasa di atas rata-rata makanan lainnya.

Hal yang unik dari kemewahan adalah sifat alamiahnya yang bisa dimiliki semua orang. Kemewahan tidak mengenal kemampuan ekonomi atau dari mana seseorang berasal. Kaya atau pun miskin, semua orang menyukai kemewahan. Kemewahan tidak selalu identik dengan barang yang mahal, tetapi juga dapat kita definisikan sebagai sesuatu yang membuat seseorang unik dan berbeda dengan hal lainnya.

Tidak terkecuali dengan teknologi.

Teknologi sudah menjadi bagian sentral dalam kehidupan manusia. Hampir segala interaksi manusia dilakukan melalui miliaran coding yang tertanam dalam gadget. Tidak mengejutkan memang jika teknologi sudah dianggap menjadi elemen penting dalam hidup manusia. Dan selayaknya elemen-elemen lain yang telah saya sebutkan, manusia pun juga akan menyukai kemewahan dalam teknologi.

iphonex-front-side-flat.jpg

Saya yakin anda semua adalah pembaca yang cerdas dan itu membuat pekerjaan saya sendiri menjadi lebih mudah. Kita tahu bahwa ketika kita berbicara kemewahan dalam teknologi, Apple adalah merk yang pertama kali muncul ke permukaan. Serius deh, kelompok manusia jenis apa sih yang tidak tergoda sedikitpun ketika berkunjung ke iBox, brick-and-mortar nya Apple di Indonesia?

Banyak orang mengira bahwa senjata paling mematikan Apple dalam melawan kerasnya persaingan di dunia teknologi adalah kepiawaiannya dalam membaca tren pasar dan selalu menjadi inovator. Di satu perspektif, itu benar. Terobosan inovasinya dalam menciptakan iPod dan iPhone satu dekade yang lalu adalah salah satu terbosan teknologi yang terbaik yang pernah ada dan sekaligus menjadi titik awal kejayaan Apple hingga saat ini.

Akan tetapi, menjadi terlalu naif rasanya jika kita menghubungkan kesuksesan masif Apple hanya dengan hal sedangkal inovasi. Faktanya, Apple kerap tertinggal dalam mengeluarkan produk dengan fitur terbaru di pasaran dan hal ini terutama terlihat jelas sekali di pasaran smartphone dan laptop. Ini disebabkan karena memang bukan itu yang menjadi keunggulan utama perusahaan yang berdiri 4 dekade yang lalu ini.

Apple, baik kita sadari atau tidak, telah bertransformasi dari perusahaan yang menawarkan teknologi sebagaian kekuatan utamanya menjadi perusahaan yang menawarkan kemewahan.

Dalam bukunya yang berjudul The Four, Scott Galloway menyebutkan salah satu kutipan paling saya ingat dalam sebuah buku. Kira-kira bunyinya seperti di bawah ini.

“How do you elegantly communicate to friends and strangers that your skills, DNA, and background put you in the 1 percent, no matter where you are? Easy, carry an iPhone.”  – Scott Galoway, The Four

 

Pembeli Irrasional

Ketika kita berkata bahwa Apple adalah yang terbaik di kelasnya dengan teknologi semata, faktanya ada banyak data dan berita yang memberitakan sebaliknya. Samsung dan pabrikan Android lainnya sudah konsisten menjadi pabrikan yang mengeluarkan produk paling inovatif setiap tahunnya. Infinity curved display, ponsel kedap air, dock yang mampu menyambungkan smartphone ke layar komputer, dan wireless charging adalah beberapa fitur inovatif yang baru baru ini diluncurkan oleh pabrikan Android lebih dahulu sebelum diadopsi oleh Apple.

Secara hardware Apple pun bisa dibilang tertinggal secara head to head meskipun hal ini juga disebabkan oleh sifat alamiah iOS sendiri yang lebih ringan dan less demanding. Dengan perbandingan singkat tersebut, hampir bisa dikatakan bahwa Apple tidak memiliki keunggulan kompetitif apapun yang menjadi pembeda signifikan antara mereka dengan smartphone berbasis Android. Sudah tidak menjadi inovator nomor 1 di pasaran, harga Android pun (jauh) lebih terjangkau di kantong rata-rata orang.

Akan tetapi, data tentang penjualan smartphone pada tahun 2016 oleh MacRumours menunjukkan suatu fakta mencengangkan.

Infographic

Pada tahun 2016, ponsel Apple mewakili 14,5% dari jumlah smartphone yang terjual di pasaran namun menguasai 79% dari pangsa profit yang ada di industri yang sama. Hal ini dapat diibaratkan seperti produk dengan profit margin sebesar Ducati namun memiliki kapasitas produksi seperti motor matik Honda. Gila!

Sedangkan di dunia laptop dan PC, Apple memang masih tertinggal volume penjualannya dibandingkan pabrikan yang lain. Namun, tetap saja hal itu tidak mengurangi sedikitpun kemewahan yang tertanam dalam merk Apple. Pelajar dan pekerja dengan mobilitas tinggi (yang tentunya memiliki dana lebih!) adalah pasar utama MacBook dan hal ini pun sejalan dengan desainnya yang luar biasa indah. Ringan, tipis, elegan, dan tentunya teknologi Retina Display yang masih terbaik di kelasnya.

Membawa MacBook ketika berpergian bukan hanya tentang portabilitas dan performa, tetapi juga mengkomunikasikan status sosial dan gaya hidup seseorang.

og
Oh, summer sweet child!

Saya akan berikan sebuah komparasi untuk mengupas hal ini lebih dalam. Jika anda menggunakan Galaxy S8, Google Nexus, laptop Dell XPS 13 atau pun gadget dengan merk lain, sifat tersebut akan menunjukkan bahwa anda adalah seorang yang tech savvy dan selektif dalam memilih. Spesies pengguna merk itu dianggap sebagai mereka yang punya bujet lebih dan memang mengerti perkembangan teknologi terbaru. Lain lagi dengan pengguna Apple.

Mereka yang tidak menggunakan Apple biasanya menganggap bahwa pengguna Apple adalah budak korporasi yang terbuai dengan desain dan kemewahan yang ditawarkan Apple. Saya sendiri sering menemukan kasus dimana fanboy Android membandingkan gadget kedua OS dan memfokuskan ketertinggalan Apple dalam mengadopsi fitur dan hardware terbaru. Saya tidak tahu apakah motif mereka melakukan komparasi tidak berarti tersebut adalah karena iri (karena tidak mampu membeli iPhone) atau karena Steve Jobs pernah menghina ibu mereka, yang jelas itulah fakta yang terjadi di lapangan.

Mereka yang membeli Apple dilihat sebagai kaum yang borjuis, hedonis, dan irrasional. Dua karakter pertama terlihat jelas dari kekuatan konsumsi mereka yang biasanya berada di atas rata-rata. Menariknya, pembeli Apple pun rata-rata adalah manusia yang juga irrasional. Seseorang yang rasional akan berpendapat, “Apa yang dipikirkan pembeli Apple hingga mau membeli gadget dengan spesifikasi dan performa yang setara dengan ponsel Android seharga 6 juta, namun rela menebusnya dengan harga 2 kali lipat?”.

Ini berbeda dengan mereka yang membeli gadget seperti Galaxy S8, Google Nexus, dan Dell XPS 13. Pembeli di kelompok ini biasanya akan membandingkan gadget itu dengan gadget lainnya sebelum mengambil keputusan yang terbaik menurut parameter mereka masing-masing. Mereka membandingkan mulai dari spesifikasi, fitur, performa, dan lalu mencocokan dengan kebutuhan sang pembeli itu sendiri. Itulah yang dinamakan pembeli rasional dan tidak dibutakan oleh loyalitas terhadap brand.

Kalau para pembeli Apple yang setia? Alih-alih membandingkan, mereka tidak perlu repot-repot melakukan benchmarking dengan produk lain karena memang Apple tidak benar-benar berkompetisi dengan siapapun. Konsumen yang selektif akan melihat sebuah gadget berdasarkan kapabilitasnya. Pembeli Apple ya akan membeli produk tersebut karena ada logo apel yang tidak utuh di belakangnya. Itulah satu-satunya alasan yang mereka perlukan!

Mereka adalah tipe pembeli yang tidak rasional dan rela mengeluarkan uang yang tidak rasional pula untuk menebus barang yang secara kualitas tidak jauh berbeda dengan produk yang lebih murah. Hal ini membuat kita jadi berfikir, “Bagaimana bisa Apple menghipnotis manusia hingga jadi buta akan harga dan performa?”

 

Berawal dari Apple Store

Sejak awal, Steve Jobs adalah figur penting yang mendorong Apple untuk berganti haluan menjadi sebuah merk berbasis kemewahan. Apple memang sudah terkenal sejak 3 dekade yang lalu sebagai perusahaan yang mampu mendesain komputer dengan indah. Akan tetapi, hal tersebut terlihat semakin jelas ketika Steve berkolaborasi dengan Rob Johnson untuk merancang Apple Store di pergantian abad ini.

Hampir semua bisa setuju bahwa Steve adalah seorang visioner dan ia selalu percaya diri dengan idenya. Akan tetapi, kemewahan baginya adalah suatu pengalaman. Jika Apple ingin konsumen mengetahuinya sebagai brand mewah, maka konsumen harus lebih dahulu merasakan kemewahan pada brand itu. Dan tidak ada cara yang lebih jitu dalam melakukan itu selain menyampaikannya melalui toko fisik mereka, Apple Store.

Steve mempunyai visi pada Apple Store sebagai jendela Apple dalam menjamah konsumen dengan berbagai jenis latar belakang, dan satu satunya cara adalah menciptakan cabang Apple Store yang mampu mengkomunikasikan pengalaman kemewahan itu.

Apple Store Stanford
Mac Store Stanford, London

Ketika saya menginjakkan kaki di dalam iBox, saya seperti memasuki sebuah dunia yang berbeda dengan area sekitarnya. Berada di dalam iBox sembari melihat dan menanyakan harga pada gadget yang ada tak ubahnya seperti gestur yang mengkomunikasikan kepada orang lain yang berjalan melewati iBox bahwa saya adalah spesies alpha dengan kemampuan ekonomi di lingkaran top 1%. Dan ketika kita berbicara tentang kemewahan, memang tidak lebih dari 1% dari populasi manusia di dunia ini yang dapat membeli gadget Apple tanpa berfikir panjang.

Saya memang tidak tahu background anda, tapi saya jamin 95% dari anda yang membaca ini pun berpendapat demikian.

Maka tidak heran jika Apple sangat amat identik dengan kemewahan tokonya. Dari channel ini, langkah Apple dalam memperkenalkan diri sebagai luxury brand menjadi lebih mudah. Kembali lagi dengan penjelasan di bagian pertama, sifat alami manusia memang menyukai kemewahan. Apple Store dan ditambah berbagai gimmick marketing lainnya membuat Apple sukses dalam mengendalikan aspek psikologis dan emosional manusia.

Untuk para pria, pasti kalian pernah bertanya-tanya bagaimana tas kecil bisa berharga puluhan atau bahkan ratusan juta hanya karena terbuat dari kulit dan ditempeli logo LV atau Chanel. Untuk para wanita, tentu kalian tidak habis fikir bagaimana laki-laki bersedia menggelontorkan uang ratusan juta rupiah untuk memodifikasi kendaraan mereka.  Satu hal yang perlu kita pahami adalah kemewahan tidak memperhitungkan rasionalitas dari penentuan keputusan. Mereka yang berada di kalangan menengah ke atas akan mengeluarkan berapapun jumlah uang yang diperlukan demi menebus suatu kepuasan emosional yang tidak masuk akal. Orang gila? Ya, tentu saja. They don’t think the way most people think.

Segala sesuatu yang Apple keluarkan atau lakukan akan dianggap sebagai tren yang acceptable dan mendemonstrasikan keunikan karena popularitasnya. Toleransi publik terhadap Apple jauh lebih tinggi dibandingkan brand lain. Tahun 2015, Apple memperkenalkan Apple Watch dan menawarkan pengalaman menggunakan jam tangan yang berbeda. Tahun 2016, Apple menghapus headphone jack dari iPhone serta hanya memasang port Thunderbolt 3 (USB-C) pada MacBook Pro. Oh iya, jangan lupa AirPods yang ‘elegan’ ini guys!

airpods-3800x2149-iphone-7-review-woman-headset-wireless-best-12059

Tidak hanya soal teknologi, perusahaan dari California ini juga dapat dimaafkan atas kesalahan yang mungkin dapat berakibat fatal jika menyangkut brand lain. Pada bulan Desember 2015, seorang pria berusia 28 tahun melakukan kegiatan terorisme di daerah San Bernardino, California. Setelah penyelidikan, FBI meminta Apple untuk menciptakan software yang dapat membuka isi ponsel iPhone dari teroris itu. Kalian pasti tahu kan bagaimana cerita itu berakhir?

Apple dengan tegas menolak atas alasan menjaga privasi penggunanya dan hal tersebut didukung oleh publik secara luas. Jika sebut saja, perusahaan penyedia smartphone yang tidak terkenal berada di posisi itu, akankah publik menimpali dengan reaksi yang sama? Atau malah akan dipersekusi dengan tudingan bahwa mereka menghalangi penegakan keadilan?

 

The Immortal Luxury

Jika saya melemparkan pertanyaan “apakah kesamaan yang dimiliki Dior, Louis Vuitton, Ferrari, dan Rolex selain status mereka sebagai brand mewah?”, apa yang akan jadi jawaban anda?

Louis-Vuitton-Paris
Butik Louis Vuitton di Paris

Mungkin tidak banyak yang menyadari, namun satu kesamaan yang dapat kita temukan di antara merk tersebut, yaitu keberlangsungan. Louis Vuitton (1854), Ferrari (1939), Rolex (1905), dan Dior (1946) adalah brand yang tetap terus menggema mesti dilandang kompetisi dan pergantian manajemen setelah beroperasi beberapa generasi. Hal ini wajar mengingat kemewahan bersifat timeless dan merupakan persona yang membutuhkan waktu bertahun tahun untuk dibangun. Dan untuk membuatnya tidak lekang oleh zaman, keputusan Apple untuk bertransformasi menjadi brand yang menawarkan kemewahan adalah keputusan yang masuk akal.

Menurut Scott Galloway, Apple adalah satu satunya perusahaan di antara Big 4 (Apple, Google, Amazon, Facebook) yang tetap sukses meskipun mengalami transisi perpindahan manajemen. Di bawah kendali Jobs, Apple adalah perusahaan yang agile dan terus berinovasi untuk mengeluarkan produk yang inovatif dan elegan. Sedangkan, Apple yang dinakhodai Tim Cook lebih cenderung risk neutral dan fokus untuk scaling up bisnis dibandingkan menciptakan gebrakan baru (wajar jika banyak orang yang bilang Apple sudah tidak se inovatif satu dekade yang lalu). Hal yang sama belum bisa dikatakan untuk ketiga perusahaan lainnya karena usia mereka yang masih terbilang muda.

Strategi bisnis belakangan ini Apple seakan semakin memperkuat hegemoninya dalam bidang teknologi dan brand yang mewah. Google dan Amazon dituntut 24/7 untuk terus berkompetisi agar terus berada di depan. Pengguna Google dan Amazon adalah pengguna yang rasional dan memilih brand tersebut karena mereka yang memberikan pelayanan terbaik. Akan tetapi, mereka bisa pindah hati semudah mereka berlabuh untuk pertama kalinya. Sedangkan, meninggalkan Apple berarti meninggalkan sebuah kemewahan dan gaya hidup. Totally different context.

google-backgrounds-For-Desktop-Wallpaper

Tentu itu bukan berarti bahwa Apple dapat terlena dan tidak lagi agresif dalam berinovasi. Hanya saja, aman rasanya untuk berkesimpulan bahwa Apple tidak bertarung di medan yang benar benar sama dengan kompetitor nya. Switching cost dalam meninggalkan produk Apple sama besarnya seperti seseorang yang berganti dari menggunakan Lamborghini menjadi Porsche. Produk dengan performa serupa tapi tak sama.

Buah dari ketepatan strategi itu adalah status Apple sebagai perusahaan paling profitable di dunia saat ini. Sebuah hadiah yang mahal dan bergengsi atas keberanian visioner dalam mengambil langkah yang tegas dan merombak definisi acceptable di lingkungan global. Kita dapat belajar dari Apple bahwa menjual barang mewah atau sesuatu yang bersifat niche bukan berarti kehilangan pangsa pasar yang besar dan lantas mengurangi profit. Ini semua karena pada dasarnya, manusia dengan kemampuan ekonomi kelas atas adalah mahluk yang proses pengambilan keputusannya sangat dipengaruhi emosi.

Maka dari itu, wajar untuk mengatakan bahwa Apple mungkin akan menjadi salah satu perusahaan teknologi saat ini yang mampu bertahan hingga bergantinya abad ini.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s