Tentang Menghargai Freelancer

Disclaimer: Apa yang saya sampaikan murni pandangan dan pengalaman saya pribadi. Saya sama sekali tidak menggeneralisir semua perekrut karena memang tidak semuanya seperti ini.


2 bulan yang lalu saya sempat menulis di The Jakarta Post tentang bagaimana digitalisasi mengenalkan sebuah tren baru yang bernama Gig Economy. Anda dapat membaca versi lengkapnya di sini. Dalam ulasan di internet, Gig Economy didefisinikan sebagai keadaan dimana pattern dunia kerja mulai sedikit demi sedikit didominasi pekerja dengan kontrak jangka pendek ketimbang jangka panjang.

Singkatnya, Gig Economy mampu membawa banyak dampak yang menguntungkan kedua belah pihak (pekerja dan perekrut tenaga). Dari Gig Economy, lahirlah peluang kerja freelance yang bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Gig Economy menciptakan peluang bagi kelompok usia kerja untuk menciptakan keseimbangan antara kehidupan sosial dan pekerjaannya. Perusahaan atau startup bahkan untung jauh lebih besar karena dengan munculnya sistem ini, mereka sanggup melakukan penghematan biaya secara signifikan.

Namun kali ini saya tidak ingin membahas sisi positifnya. Semua insan sudah tahu akan itu. Sebaliknya, saya ingin mengajak kita semua untuk sama-sama menyadari sisi negatif dari fenomena Gig Economy ini. Menyadari dan mulai mengajak teman-teman untuk mulai menghargai sesama pihak yang berkepentingan. Mari segera kita mulai.

Saya langsung to the point. Tenaga kerja yang bersifat dinamis seperti freelance masih kurang dihargai oleh mayoritas orang Indonesia. There, I said it.

“Apakah ada data yang mem-backup klaim anda?”

Tidak ada.

Karena saya tidak berbicara hal tersebut berdasarkan cerita, namun lebih ke pengalaman. Saya sudah jadi seorang freelancer sejak tiga tahun yang lalu meskipun tidak rutin. Selama periode itu, saya sudah pernah bekerja menjadi freelance bagi institusi dalam negeri maupun institusi luar negeri jadi saya dapat mengetahui perbedaannya. Saya akan mulai pembahasan dari bekerja freelance dengan pihak dari luar Indonesia.

 

Freelancing dengan pihak luar

Salah satu ciri-ciri mencolok pada perekrut freelance luar negeri adalah mereka membayar sesuai dengan sumber daya yang dikeluarkan oleh freelancer. Perekrut yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk institusi atau pun perusahaan, tetapi juga perseorangan.

Jelas tidak semua begini. Tapi saya berani jamin 80% dari mereka seperti itu. Mari ambil contoh pengalaman saya ketika ada sebuah perusahaan startup dari luar yang membutuhkan jasa pembuatan logo. Dalam kasus ini, biasanya tarif akan ditentukan secara tetap atau pun per jam sesuai dengan tingkat kesulitannya. Bahkan dalam kasus tarif tetap pun, sejauh ini saya hampir selalu dibayar dengan layak. Sedangkan dalam kasus tarif per jam, biasanya akan melalui negosiasi atau pun si pihak perekrut sudah memiliki SOP yang jelas dan terstruktur dalam menentukan harga.

Membayar dengan layak bukan hanya soal value yang diterima oleh si perekrut. Hal itu memang penting. Tapi mereka juga sadar jika menulis, riset, atau pun desain membutuhkan waktu, ide, kreativitas, biaya listrik, internet, dan tenaga. Mungkin memang tidak sepenuhnya dimasukkan ke dalam hitungan secara detil, tapi pengeluaran itu dianggap nyata dan diperhitungkan ketika menentukan bayaran.

 

Freelancing dengan sesama orang Indonesia

Kejadian ini TIDAK SELALU ya. Tapi saya memang sering banget menemukan peluang freelance dengan bayaran yang tidak layak. Parameter saya untuk menentukan apakah bayaran itu layak atau tidak didasarkan pada Undang Undang Ketenagakerjaan. Dalam 1 minggu, UU mengatur bahwa tenaga kerja bekerja 40 jam dalam seminggu dengan gaji minimal UMR. Dengan asumsi UMR yang digunakan adalah UMR Jogja, maka kalkulasinya akan seperti berikut:

UMR / Jam kerja sebulan = Rp 1.500.000 / (40 jam/minggu x 4 minggu) = Rp 9,375 / jam

Saya pernah ditawari menulis artikel berbahasa inggris dengan 1500 kata dengan bayaran 25 ribu rupiah hingga diminta desain poster oleh teman sendiri dengan bayaran terima kasih alias gratis. Untuk menulis 1500 kata, rata-rata saya membutuhkan waktu 3-4 jam dari awal menulis hingga meng-edit. Maka berdasarkan hitung-hitungan kasar, saya hanya akan diupah sebesar Rp 6,250 / jam. Ini belom menutupi biaya latihan, listrik, tenaga, dan waktu yang sudah dikeluarkan.

Dua tahun yang lalu, saya punya teman yang menjadi freelancer sebuah proyek di bagian riset dengan bayaran 250 ribu rupiah seminggu. Waktu itu saya mikirnya lumayan juga ya, sebulan dapat 1 juta rupiah. Tapi ternyata saya akhirnya tahu kalau dia hampir setiap hari tidur jam 3 pagi karena menyelesaikan riset freelance nya dari jam 9 malam. Setiap hari. Kalau pake hitung-hitungan di atas, ternyata teman saya hanya mendapat upah sebesar Rp 5,900 / jam.

Dari yang tadinya iri, saya akhirnya jadi kasian karena teman saya udah dibodoh-bodohi. Sudah melelahkan, membutuhkan waktu lama, menggunakan banyak ilmu, gajinya pun tidak lebih besar dari pekerja tanpa memiliki sertifikat yang ‘wajib’ dibayar sebesar UMR.

Yang paling parah adalah ketika seseorang ingin membuat sebuah startup, grup, atau pun kelompok dan lalu ingin meminta jasa desainer untuk membuatkan logo. Dulu saya sendiri pernah dibayar hanya 75 ribu rupiah padahal durasinya mencapai 6 jam mulai dari merancang hingga selesai revisi.

Secara hitung-hitungan, memang saya mendapatkan 13 ribu rupiah per jam dan jauh di atas UMR. Akan tetapi, ada nilai intangible yang tidak bisa diukur namun nyata adanya. Logo yang saya buat akan dipakai hingga selamanya sehingga logo itu memberikan value identitas yang mahal harganya. Selain itu saya juga menggunakan laptop, listrik, dan koneksi internet untuk membuat logo dari awal hingga akhir. Belum lagi waktu dan tenaga yang dibutuhkan.

Tetapi kenyataannya tidak demikian. Saya sudah mengerjakan lebih dari 40 proyek dengan sesama orang Indonesia dan pattern yang saya amati tidak berubah. Kebanyakan hanya mau membeli ‘nilai’ yang diberikan kepada mereka tanpa terlalu peduli berapa lama waktu, tenaga, listrik, dan sumber daya lain yang terbuang.

“Ah, cuma logo gini doang kok.”
“Kalo temen gratis lah.”

Ya, anda kerjakan saja sendiri. Beres.

 

Lalu, kita harus bagaimana?

Jika saya boleh jujur, stigma seperti ini sebenarnya dimulai dari kaum freelancer sendiri. Ini tidak hanya terjadi di sektor desainer saja, tetapi di hal lain seperti menulis, photoshoot, riset, dan lain lain. Memang, daritadi saya berbicara tentang sisi perekrut, tetapi hal ini hanya bisa diubah jika freelancers mau turut jadi bagian dari solusi.

Mulai sekarang, stop menghargai diri anda dengan rendah. Memasang tarif rendah hanya untuk mendapatkan klien sama saja merusak harga pasar. Ketika bernegosiasi harga, saya selalu mempertimbangkan faktor di bawah ini.

  1. Berapa bayaran per jam nya? (jika biaya fix, perkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya)
  2. Berapa lama durasi menyelesaikannya?
  3. Bagaimana tingkat kesulitannya?
  4. Sumber daya apa yang saya gunakan untuk menyelesaikan proyek?
  5. Seberapa penting proyek ini menurut klien?

Penting bagi anda untuk menentukan upah minimal bagi diri anda. Ingat, jangan overvalue dan juga undervalue. Sesuaikan dengan UMR wilayah anda serta level pengalaman dan keahlian anda. Perhitungkan juga waktu yang hilang, listrik, dan harga gadget yang anda beli. Pertimbangkan untuk bernegosiasi lebih tinggi untuk proyek yang sifatnya sangat penting bagi klien. Beranikan menolak dengan tegas teman anda yang meminta layanan gratis. Bukannya dianggap baik dan dermawan, teman anda malah bisa jadi menganggap anda tidak tegas dan mudah diinjak-injak.

Jika merasa belum memiliki pengalaman apapun, segerakan membuat portfolio contoh tulisan, desain, riset, ataupun sertifikat yang anda miliki atau pernah buat ketika latihan. Hal ini sangat berguna untuk meyakinkan klien dan memberikan anda bargaining position dalam meminta bayaran yang lebih tinggi. Jangan meminta bayaran sekelas profesional namun membawa CV amatir.

Untuk para klien, stop meremehkan freelancer. Saya tidak terlalu peduli apakah ia itu teman anda atau pun satu almamater. Usahakan jangan menjadi klien yang kurang ajar. Dalam posisi jual-beli, anda maupun freelancer sama-sama membutuhkan sesuatu meskipun berbeda bentuknya.

Biasakan melihat setiap pihak yang menawarkan sebuah layanan dan mampu memberikan added value sebagai seorang pekerja. Penulis, desainer, penjahit, peneliti riset, translator, editor, atau bahkan foto model sekali pun termasuk dalam kelompok pekerja yang wajib dibayar dengan layak.

Jika memang saat ini anda tidak ada uang sepeserpun, biasakanlah membuat perjanjian bahwa anda akan membayar dengan biaya sepatutnya di masa yang akan mendatang.  Pertimbangkan tidak hanya value dari produk/layanan itu, melainkan juga mempertimbangkan berapa sumber daya, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan oleh freelancer. Peran pihak klien sejatinya sangatlah penting karena masih banyak freelancer yang cenderung sungkan untuk melakukan tawar menawar harga.

Karena ini bukan soal memberikan salah satu pihak keuntungan yang besar. Bukan pula tentang bagaimana klien bisa mendapatkan hasil maksimal dengan mengeluarkan biaya yang rendah.

Ini lebih tentang nurani kita masing-masing, bagaimana kita membayar seseorang sesuai dengan hak, dampak, dan usaha yang diberikannya.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s