Tentang Behavioral Economics dan Cara Memanfaatkannya untuk Jadi Lebih Produktif

Pada tahun 2017, penghargaan Nobel dalam bidang ekonomi dihadiahkan kepada Richard H. Thaler, seorang behavioral economist. Beliau adalah seorang professor di University of Chicago Booth School of Business. Dalam catatan media, Professor Thaler mendapat Nobel atas kerja keras hidupnya yang mampu membuktikan bahwa prilaku manusia itu acap kali irrational dan unpredictable.

Cassidy-Nobel-Winner-Economics
Photograph by Vicki Couchman / Camera Press / Redux

Itulah behavioral economics. Suatu studi yang meyakini kalau faktor psikologi, sosial, kognitif, dan emosi punya pengaruh yang cukup signifikan dalam pengambilan keputusan manusia di suatu kegiatan ekonomi.

Teori ini kontradiktif dengan yang biasa kita dengar bahwa manusia akan selalu mencoba se-rasional mungkin dalam memutuskan hal yang berkaitan dengan uang.

Teori ini sejatinya sudah dikumandangkan sejak 3 dekade yang lalu oleh Daniel Kahneman, penulis buku bestseller Thinking Fast and Slow. Kahneman yang memenangi Nobel Laureate pada tahun 2002 tidak sendiri dalam hal ini. Ada rekannya Richard Thaler, Amos Trevsky (psikologis), Jack Knetsch, dll.

Para tokoh tersebut layak kita acungi jempol semua pasti tahu bahwa sekelompok economists adalah salah satu kelompok yang paling keras kepala. Butuh puluhan waktu sebelum behavioral economics benar-benar diterima secara luas.

Saat ini, behavioral economics menjadi input krusial untuk menciptakan kebijakan publik. Suatu perkembangan yang luar biasa.

Sadar gak sadar, behavioral economics ini sebenarnya sudah kita lakukan sehari-hari. Mari kita bahas satu per satu..

Ketika anda belanja, anda melihat baju yang price tag nya 400 ribu rupiah tapi setelah diskon 75%, harganya jadi 100 ribu rupiah saja. Anda beli bajunya karena ‘merasa’ harga ini merupakan bargain. Namun jika harga yang terpampang di awal adalah 100 ribu rupiah tanpa diskon, kemungkinan anda tidak akan membelinya.

Disini anda terkena anchoring biasyaitu suatu keputusan yang dipengaruhi oleh info yang pertama kali anda dapatkan.

Lain halnya ketika anda ingin membeli kaos kaki. Awalnya anda ingin membeli 1 pasang kaos kaki saja karena ingin menghemat dan ketika sampai di toko, harga yang terpampang adalah 5 ribu rupiah. Tapi di rak yang sama, anda melihat bahwa 5 pasang kaos kaki itu dijual seharga 15 ribu rupiah saja. Jika anda membeli 1 pasang anda akan bayar 5 ribu/pasang. Sedangkan untuk pilihan yang kedua, anda hanya perlu membayar 3 ribu/pasang. Pernahkah anda berada di posisi ini?

Ini namanya decoy effect, yaitu suatu keadaan dimana kualitas keputusan anda diacak-acak oleh keberadaan opsi lainnya di situasi itu. 

Pernah dengar endowment effect? Ini adalah suatu situasi dimana anda merasa suatu barang lebih berharga karena anda merasa benda itu milik anda. Mungkin bahasa gampangnya anda seperti punya rasa memiliki yang tinggi, mungkin karena sejarah barang tersebut atau bagaimana desain suatu produk mewakilkan pribadi anda. Hal ini nampaknya juga dimanfaatkan perusahaan yang menyediakan jasa custom untuk produk yang mereka jual.

Tujuannya? Untuk memberi anda kesempatan dalam meletakkan ‘jiwa’ anda ke dalam produk tersebut. Dampaknya bisa jadi adalah loyalitas seumur hidup kepada suatu brand. 

Luar biasanya adalah itu baru segelintir dari konsep penerapan behavioral economics di kehidupan sehari-hari kita. Sejatinya pun masih ada banyak lagi jenis-jenis lainnya seperti social proof atau pun loss aversion.

Mengetahui hal-hal di atas, seharusnya kita sepakat akan satu hal. Cara paling efektif untuk mendorong manusia dalam berbuat sesuatu adalah dengan bermain dengan emosinya serta menciptakan suatu kondisi yang melimitasi pilihan keputusan. Makanya cukup disayangkan kalau hal ini hanya sekedar kita ketahui tanpa kita manfaatkan untuk kepentingan kita.

Lupakan komitmen atau willpower karena sesungguhnya lebih sulit merubah orang pemalas menjadi rajin daripada memindahkan gunung.

Jadi, apa itu tipsnya?

Sometimes, think about the consequence!

Messi s Argentina trophy will e at some point Lavezzi Goal

Menurut studi yang ada, manusia seringkali bekerja lebih keras ketika ia tahu akan kehilangan sesuatu (jika tidak bekerja) ketimbang ketika ia dimotivasi akan mendapatkan sesuatu ketika sudah bekerja. Inilah yang dinamakan loss aversion

Memang ini terdengar counter intuitive dengan yang biasa kita ketahui tentang memotivasi diri. Mayoritas dari kita mengira kita bakal termotivasi untuk melakukan sesuatu ketika kita berfikir akan reward yang kita dapatkan.

Di satu sisi ini benar. Kita harus akui bahwa berimajinasi itu juga mendorong kita berbuat sesuatu. Tapi ini tidak selamanya benar. Ambil contoh kita adalah seorang pekerja yang ingin jadi kaya raya.

Kalau ditanya, “mana yang lebih besar, rasa takut anda menjadi miskin atau keinginan anda ingin menjadi kaya?

Saya prediksi banyak dari anda pasti akan menjawab rasa takut menjadi lebih miskin jauh melampaui keinginan menjadi kaya. Sangat amat wajar dan normal kalau manusia menjawab seperti itu. Bayangan kemiskinan memang efektif dalam membuat bulu kuduk merinding, apalagi untuk pemuda..

Pelajaran pertama dari behavioral economics menunjukkan bahwa manusia sesungguhnya lebih mudah bergerak ketika ia membayangkan konsekuensi dari tidak melakukan sesuatu. Ketika kita berfikir tentang reward dari apa yang akan kita lakukan, bayangan itu terasa seperti mimpi atau angan-angan.

Angan-angan dalam artian “kalau jadi kaya raya ya bagus, kalo gak kaya juga yaudah tetep bersyukur”. Gak ada sense of urgency sedikitpun. Karena kebanyakan orang  menganggap kekayaan itu keberuntungan, bukan urgency yang harus dicapai at all cost.

(Tentu tolak ukur kesuksesan ya kembali lagi ke diri sendiri ya. Kaya-tidak hanyalah contoh, bukan parameter absolut..)

Mari ambil contoh lainnya yang lebih membumi mungkin, yaitu ketika absen sudah bolong 4 di suatu mata kuliah, sebut saja mata kuliah A. Dalam konteks ini, kita tahu kalau kita tidak masuk kelas, maka kita jadi tidak bisa ikut ujian. Alhasil, badai dan macet pun akan ditrabas tanpa peduli kesehatan diri sendiri. Ini karena dalam situasi tersebut, kita tidak punya pilihan lagi.

Maka, kita masuk ke kelas matkul A bukan karena merasa ilmu yang diajarkan bermanfaat untuk kita (gain). Kita masuk ke kelas matkul A karena kita lebih takut akan konsekuensi tidak bisa ikut ujian (loss). Ini adalah contoh dimana ketakutan akan kehilangan sesuatu bikin orang jadi bekerja lebih keras dari pada sebelumnya.

Tentu saja kita tetap memerlukan motivasi dan membayangkan reward yang bakal kita dapatkan ketika berhasil karena membayangkan konsekuensi itu sejatinya exhausting dan acap membuat seseorang tertekan secara mental. Ketakutan setiap saat juga berpotensi menyebabkan seseorang tidak bahagia.

Tapi satu hal yang kita pelajari adalah manusia akan bekerja lebih keras ketika ia memposisikan dirinya dalam keadaan diri kepepet dan akan kehilangan sesuatu yang berharga ini. Istilahnya berani mati demi menyelamatkan hal ini.

Untuk mencapai keadaan ini anda tidak melulu harus membayangkan kaya dan miskin kok. Bisa juga dengan contoh lain. Misalnya anda memberitahu komitmen yang ingin anda capai ke orang lain.

Meskipun berisiko, tapi ini cukup ampuh dalam menciptakan situasi kepepet. Dengan anda memberitahu komitmen anda ke orang lain, anda akan berada di posisi dimana anda rela mati untuk menunjukkan komitmen dan menyelamatkan reputasi anda.

Sebagai contoh adalah komitmen saya selaku admin akun Instagram @bizztalks. Minggu lalu saya sudah mem-posting tentang jadwal postingan saya di blog selama bulan Maret ini. Buat saya ini bisa dibilang nekat karena selama ini saya gapernah konsisten menulis setiap minggu, tapi karena sudah terlanjur posting, saya gak punya pilihan lagi selain meluangkan waktu nulis.

March Schedule

Di detik ini, faktor utama yang mendorong saya untuk menulis adalah ketakutan akan kehancuran reputasi dan dianggap tidak komitmen akan apa yang sudah saya sebarkan. Dengan posting itu, saya sengaja melimitasi pilihan saya sendiri agar saya segera bergerak. Mirip mirip seperti pakai kacamata kuda lah..

Buat saya, ini wajib karena kalau tergantung dengan willpower saya semata, mungkin saya hanya akan menulis sebulan sekali..

Jadi, jika anda ingin mencapai tujuan anda secara efektif dan efisien, mulailah dengan membayangkan konsekuensi yang akan anda terima ketimbang reward nya. Bayangkan kesulitan yang akan menerpa diri anda untuk menggerakkan badan. Ambil small steps pada awalnya sehingga terbentuk momentum. Rencanakan. Lakukan. Belajar. Terapkan apa yang dipelajari. Repeat.

Terus buat diri anda dalam keadaan kepepet yang sedang mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga untuk membangunkan ‘singa’ dalam diri anda. Trust me, it works.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s