Blue Ocean Shift: Strategi Memenangkan Perang dengan Menjauh dari Medan Perang

Blue Ocean Shift adalah salah satu buku tentang strategi bisnis paling impactful dalam sejarah yang ditulis oleh duo professor top di sekolah bisnis dan manajemen INSEAD, W. Chan Kim dan Renée Mauborgne. Sejatinya buku ini merupakan edisi lanjutan dari buku Blue Ocean Strategy yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh penulis yang sama. Menurut  link dari website resmi kedua buku ini, Blue Ocean Strategy mencatatkan penjualan sebesar 3,5 juta kopi, diterjemahkan ke dalam 44 bahasa, dan merupakan bestseller di 5 benua.

blue ocean shift

Mungkin disini ada yang asing dengan istilah blue ocean. Saya akan bahas dengan analogi mudah dan simpel ya.

Ketika kita bicara blue ocean, kita juga mesti membahas red ocean.

Red ocean mengacu pada suatu industri dimana persaingan sangat ketat dan saling membunuh satu sama lain. Dalam konteks strategi bisnis, industri yang red ocean itu diibaratkan seperti suatu area laut yang mana ada banyak sekali hiu atau predator di perairan itu.

Banyak predator berarti akan ada banyak aktivitas saling memakan, membunuh, dan menyakiti satu sama lain hingga ada banyak pertumpahan darah. Akibatnya perairan tersebut warnanya menjadi merah penuh darah dari predator yang hidup di dalamnya. Itulah mengapa situasi ini disebut red ocean.

Sedangkan, Blue ocean diibaratkan sebagai strategi suatu perusahaan yang sengaja memisahkan dirinya dari predator-predator lainnya dengan cara memberikan inovasi atau diferensiasi produk. Dengan inovasi/differensiasi tersebut, ia membuat kompetisinya tidak relevan dan seperti berada di perairan yang sepi dari predator lainnya. Minim predator = minim makan memakan = air laut menjadi biru sejuk.

Sampai sini, paham ya? 🙂

earth-cloud-sky-red-ocean-breathtaking-wallpaper-89453-142977778725
Red Ocean vs Blue Ocean? (Wallpaperrs.com)

Pelajaran yang paling berharga yang saya bisa ambil dari buku ini sejujurnya bukan tentang teknik mengaplikasikannya, melainkan dari perspektif yang diadopsi penulis untuk melihat kompetisi.

Dalam beberapa bagian di buku ini, penulis menjelaskan bahwa meskipun melakukan riset dengan benchmarking ke kompetitor adalah cara yang baik tetap berada di depan, namun hal ini dirasa kurang efektif untuk pasar yang sudah matured dan sulit untuk berkembang lagi.

Melakukan benchmarking ke kompetitor berarti anda melimitasi ruang berfikir anda secara otomatis. Dengan benchmarking, ini artinya anda menerima secara mentah asumsi yang dianut kompetitor di industri anda.

Sebagai contoh, selama 100 tahun persepsi tentang mobil yang seharusnya adalah ditenagai bahan bakar minyak. Namun, terobosan 10 tahun terakhir ini faktanya mampu melahirkan mobil dengan tenaga listrik. Yang menarik sebenarnya bukan bagaimana ia menciptakan inovasinya, tetapi bagaimana cara berfikir inovator tersebut sehingga mampu memusnahkan persepsi yang sudah ada di industrinya.

Studi kasus lainnya adalah dengan adopsi strategi blue ocean yang dilakukan oleh Bloomberg. Pada tahun 1980an, Reuters, Dow Jones, dan Telerate mendominasi industri penyampaian informasi finansial secara online. Dalam kasus yang dilansir penulis tersebut, ketiga perusahaan itu memfokuskan produk mereka pada manajer IT di perusahaan-perusahaan yang biasanya menginginkan sistem yang mudah dimengerti. Namun Bloomberg mencoba berinovasi dengan menciptakan platform info finansial online kepada traders dan analysts.

Hanya dengan mengganti target pasar mereka untuk produk yang kurang lebih prinsipnya mirip, Bloomberg mampu membuat kompetisi yang sebelumnya berdarah itu menjadi tidak relevan.

Dua kasus tadi hanyalah gambaran mengenai dahsyatnya implementasi blue ocean. Secara garis besar, buku ini harus saya akui punya isi yang solid dan pemaparan studi kasus yang mudah dicerna. Dalam buku ini, Professor Chan Kim dan Rene Mauborgne menjelaskan tiga kunci syarat utama implementasi Blue Ocean Strategy yang efektif.

  1. Mengadopsi perspektif blue ocean sehingga kita dapat memperluas pandangan kita dan mengganti pemahaman kita agar dapat mengidentifikasi peluang untuk berkembang
  2. Memiliki tools praktis untuk menciptakan pasar serta petunjuk bagaimana mengaplikasikannya ke proses eksekusi
  3. Memiliki proses yang humanis atau proses yang ramah dengan perilaku manusia ; proses yang bisa menumbuhkan kepercayaan diri kepada orang-orang yang terlibat agar mau bertanggung jawab dan mendorong proses eksekusi rencana

Mari kita bedah satu persatu..

 

  1. Mengadopsi perspektif blue ocean sehingga kita dapat memperluas pandangan kita dan mengganti pemahaman kita agar dapat mengidentifikasi peluang untuk berkembang

    Maksud poin pertama ini adalah shift atau perpindahan dari red ocean ke blue ocean itu dimulai dengan mempertanyakan beberapa asumsi fundamental yang selama ini dianut.

    Sebagai contoh dalam operasi di sebuah lembaga negara, biasanya area ini area yang paling miskin inovasi. Maka seorang pimpinan seharusnya bisa menanyakan: Apakah ada strategi yang bisa meningkatkan produktivitas pegawai namun tetap meningkatkan kepuasan kerja yang tinggi? Karena pada faktanya, lingkungan kerja di sebuah lembaga negara mungkin memiliki suasana yang serius dan formal sekali dengan harapan pegawai yang ada lebih serius bekerja.

    Dengan menanyakan asumsi yang fundamental dalam sebuah industri, ini bisa menjadi pintu anda untuk berfikir di luar standar yang telah ditentukan. Seorang blue ocean strategist sudah sepatutnya terbuka atas segala inovasi dan ide dengan cara menyusun kembali tujuan mereka.

    Mindset, menurut Chan Kim dan Rene Mauborgne, merupakan faktor paling penting dalam menyuksesan implementasi strategi blue ocean. Tanpa mindset dan perspektif yang terbuka, jalan menuju growth yang tidak terbatas hanyalah omong kosong belaka.

  2. Memiliki tools praktis untuk menciptakan pasar serta petunjuk bagaimana mengaplikasikannya ke proses eksekusi

    Kalau poin pertama membahas tentang pentingnya memiliki perspektif yang luas, maka poin kedua menekankan pentingnya menanyakan pertanyaan yang tepat untuk menciptakan segmen pasar baru. Ini sama pentingnya untuk membantu menuntun sebuah organisasi ke arah yang benar.

    Penulis menyebut proses ini untuk menumbuhkan kompetensi kreatif, struktur, serta parameter untuk mengatur pemikiran berbagai entitas dalam organisasi sehingga mereka bisa mengidentifikasi ruang peluang yang mungkin tidak pernah disadari sebelumnya.

  3. Memiliki proses yang humanis atau proses yang ramah dengan perilaku manusia ; proses yang bisa menumbuhkan kepercayaan diri kepada orang-orang yang terlibat agar mau bertanggung jawab dan mendorong proses eksekusi rencana


    Faktanya, mengimplementasikan blue ocean tidak semerdu cocotnya Mario Teguh. Ada banyak faktor yang berperan penting dalam menentukan sukses atau tidaknya proses itu. Salah satunya yang paling sentral adalah adanya resistensi dari orang internal itu sendiri. Dalam praktik di lapangan manusia itu pada dasarnya menakuti perubahan. Ini normal dan terjadi ke siapa saja.

    Baik pegawai maupun manajer seringkali menolak ide perubahan dan lebih memilih untuk tetap berada di zona nyaman. Di banyak tempat, pegawai menolak menyuarakan ide perubahan karena takut dicap dan di-judge secara sosial oleh lingkungannya. Sedangkan, manajer ogah menyuarakan ide perubahan karena ingin mempertahankan status quo.

    Cara pertama yang paling jitu dalam memenangkan faktor ketiga ini adalah dengan top-down approach. Intensi yang jelas sudah semestinya dikomunikasikan dari direktur level atas dan senantiasa meminta feedback. Di tahap ini, komunikasi sangat krusial agar tidak terjadinya asumsi dan duga-praduga yang bisa menimbulkan perselisihan dan rasa tidak aman bagi para pegawai.

    Kemudian, cara selanjutnya adalah dengan melakukan baby steps. Perubahan yang begitu masif dan tiba-tiba akan membuat pegawai tidak nyaman dan merasa tertekan. Maka manajer memegang peranan penting dalam menghargai segala ide pegawai dan membagi pekerjaan masif itu menjadi milestone-milestone kecil. Dengan munculnya progres kecil, maka akan terbentuk momentum yang menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa memiliki bagi para pegawai.

 

Poin menarik lainnya dari buku ini adalah aplikasi penerapannya yang endless. Penulis menjelaskan berbagai macam studi kasus untuk membantu membuka perspektif pembacanya. Studi kasus yang menarik untuk saya adalah studi kasus yang menjelaskan aplikasi blue ocean di level lembaga Pemerintah dan non-profit.

Menarik karena kodrat lembaga Pemerintah dan non-profit itu sendiri tujuan utamanya kan bukan untuk mencari profit. Kalau lembaga Pemerintah, kompetisinya pun nyaris nihil karena embaganya bergerak di sektor pelayanan publik. Kalau lembaga non-profit, buat apa repot-repot bersaing untuk cari profit?

Meski begitu, studi kasus yang dipaparkan menunjukkan kalau pendekatan ini bisa digunakan untuk melakukan pelatihan kepada napi, dalam klub musik orkestra, teknik menarik lebih banyak sumbangan ke badan amal, dan lain sebagainya.

Buku yang wow bukan?

 

Kesimpulan

78771-100-best-life-status-for-whatsapp-in-english-03

Overall, ini jelas buku terbaik yang saya baca di tahun ini. Saya pribadi akan memberi nilai 9/10. Ada dua alasan yang membuat saya berkata seperti itu.

Pertama, penulis buku ini adalah dua profesor di bidang blue ocean yang juga professor di sekolah bisnis ternama. Jadi secara kualitas dan kredibilitas materi pun rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Kedua, studi kasus yang dipaparkan cukup efektif untuk mengurangi skeptisma pembaca terkait subjek ini. Ini bisa kita lihat dari bagaimana penulis mencantumkan berbagai kasus blue ocean untuk berbagai jenis kasus bisnis. Intinya adalah menunjukkan bahwa blue ocean itu bukan benda asing.

Malah, saya pun heran mengapa blue ocean ini jarang sekali diajarkan di kampus. Kalaupun diajarkan, materinya sedikit sekali dan tidak signifikan. Karena pada kodratnya, hampir semua profesi yang biasa kita lihat di selebaran atau iklan kampus itu punya supply tak terbatas dan demand yang terbatas. Otomatis kita akan bersaing satu sama lain.

Jika saya menjadi Menteri Pendidikan kelak, mungkin kompetensi utama yang wajib diajarkan bagi mahasiswa di seluruh subyek adalah pelajaran tentang blue ocean, baik aplikasinya dalam perusahaan maupun diri sendiri.

Di dunia yang serba cepat dan digital ini, punya identitas itu penting.
Di dunia yang serba instan dan kompetitif ini, beda dari yang lain itu penting.
Di dunia yang pertumbuhan populasinya luar biasa ini, bisa mengidentifikasi peran dan audiens yang niche itu penting.

Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kamu mengenal kelebihan dan identitasmu? Atau jangan-jangan masih sama saja dengan di sekitarmu?

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s