Obrolan Kecil tentang Kreativitas

Picture2Artikel ini dituliskan oleh Alfin Zuhry. Alfin merupakan seorang mahasiswa Teknik Industri di Universitas Gadjah Mada dan co-owner dari Batik Nusa Indah yang tertarik pada desain grafis dan videografi.


Bisakah kita memperlajari sebuah hal bernama kreativitas?

Saya orangnya teh emang nggak kreatif dari lahir. Udah keturunan hehe.

Salah? Tidak sepenuhnya.

Sebuah studi dilakukan oleh Plos ONE pada tahun 2013 untuk mengukur kreativitas musikal seorang manusia berdasarkan kemampuan mereka dalam memprediksi nada, timing, komposisi, improvisasi, dan penataan musik. Hasil yang didapatkan adalah bahwa kehadiran sekelompok gen sangat berpengaruh terhadap kemampuan musikalitas seseorang.

Bahkan studi oleh Karolinska Institute menyampaikan bahwa cacat mental dalam skala ringan dapat meningkatkan kreativitas seseorang. Jadi, jangan heran jika banyak artis jenius seperti Winston Churchill, Ludwig van Beethoven, dan Ernest Hemingway terindikasi memiliki bipolar disorder.

Ya, kreativitas ternyata memang dipengaruhi oleh keturunan melalui DNA.

Namun jika kita berpikir bahwa kreativitas tidak dapat dipelajari, maka kita salah total.

Pada 1968, George Land melakukan penelitian terhadap 1600 anak-anak berumur 3-5 tahun. Ia melakukan tes kreativitas (sama seperti tes yang dilakukan NASA untuk merekrut peneliti maupun engineer) kepada anak-anak tersebut dan kembali melakukannya setiap 5 tahun. Berikut hasil yang ia dapatkan:

  • 98% anak-anak berumur 5 tahun masuk kedalam kategori kreatif
  • 30% pada anak-anak berumur 10 tahun
  • 12% pada anak-anak berumur 15 tahun
  • Dan hanya 2% pada orang dewasa berumur 25 tahun

Ya, hampir semua manusia terlahir sebagai manusia yang kreatif. Namun, kreativitas tersebut cenderung memudar seiring dengan bertambahnya umur. Bingung kenapa? Kalian bisa cek video TEDTalks oleh Ken Robinson, salah satu video TEDTalks dengan jumlah penonton paling banyak.

Seperti yang sudah disampaikan oleh ratusan artikel di media, kreativitas merupakan sebuah proses. Ubahlah mindset bahwa kreativitas yang awalnya merupakan “a-ha moments” menjadi kegiatan yang kita lakukan untuk mencapai “a-ha moments” tersebut.

“It’s none of their business that you have to learn how to write. Let them think you were born that way.” – Ernest Hemingway

 

Ada tips?

Tidak ada langkah pasti untuk menjadi kreatif. Namun ada beberapa kegiatan yang dapat menumbuhkan lingkungan kreatif disekitar kita. Antara lain:

  1. Seimbangkan konsumsi dan kreasi

“When a creative artist is fatigued it is often from too much inflow, not too much outflow– Julia Cameron

Sebagian besar manusia melakukan konsumsi jauh lebih banyak dibandingkan menghasilkan sesuatu. Konsumsi yang biasa kita lakukan mungkin tidak jauh dari beberapa hal berikut;

  • Status updates
  • Youtube/Netflix
  • Instagram
  • Podcast
  • Online Shopping, etc

Menurut studi oleh Colombia University, manusia rata-rata hanya dapat membuat 70-200 keputusan setiap harinya sesuai dengan kompleksitas permasalahan yang ada. Setelah melewati batas tersebut manusia mengalami sebuah hal yang disebut dengan decision fatigue. Ya, otak juga dapat mengalami kelelahan seperti halnya otot pada umumnya.

Namun, suatu hal yang tidak disadari adalah kita menghabiskan terlalu banyak ‘jatah keputusan’ tersebut untuk kegiatan-kegiatan tidak produktif. Ingat bahwa:

  • Setiap like yang kita tinggalkan disebuah berita merupakan sebuah keputusan.
  • Setiap swipe di instagram story merupakan sebuah keputusan.
  • Setiap kali kita memilih foto selfie yang akan dihapus merupakan sebuah keputusan.
  • Setiap kali kita memilih video yang akan kita tonton di YouTube merupakan sebuah keputusan.

Disisi lain, excessive consumption terutama melalui gadget memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan. Simon Sinek menyebutkan bahwa millenials memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami depresi, fobia sosial, dan gangguan komunikasi akibat konsumsi teknologi yang berlebihan.

Jadi, mulailah melakukan manajemen terhadap informasi yang kita terima. Pintar-pintarlah dalam menggunakan ‘jatah keputusan’, jagalah tingkat konsumsi yang kita terima setiap harinya, dan imbangi konsumsi dengan kreasi untuk melatih kemampuan otak.

 

  1. Set the Right Mood

Setiap orang memiliki preferensi mengenai lingkungan kerja yang berbeda beda. Ada orang yang dapat produktif ketika ditemani musik klasik. Ada orang yang harus mendengarkan musik pop. Ada orang yang mendengarkan berbagai jenis lagu untuk mengendalikan mood yang dia miliki, Steve Jobs misalnya. Ada pula orang yang membutuhkan suasana yang sangat hening.

Jadi, tentukan dan manfaatkan lingkungan yang memang dapat membuat kita produktif dan merasa nyaman.

 

  1. Berjalan atau duduk?

Rata-rata manusia duduk sekitar 7 hingga 15 jam setiap harinya. Crazy right?

Studi oleh University of Stanford menyimpulkan bahwa berjalan dapat meningkatkan creative thinking. Dan yang menarik dari studi tersebut adalah, bahwa berjalan pada lingkungan indoor ataupun outdoor menghasilkan benefit yang sama.

Bahkan ada studi lain yang menyampaikan bahwa orang yang berjalan dengan menggunakan treadmill menghasilkan respon yang dua kali lebih baik daripada orang yang hanya duduk disebuah ruangan.

Berjalan memang meningkatkan creative brainstorming, namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa berjalan memiliki dampak negatif ke focused thinking.

So, kalau kalian merasa stuck dalam memikirkan sebuah ide, berjalan dapat membantu kita. Tapi ketika kita membutuhkan ruang untuk berpikir secara fokus dan detail, duduk akan menjadi pilihan yang lebih baik.

 

  1. Perluas Pengetahuan Kita

Membaca sebuah artikel tidak akan langsung membuat kita menjadi seseorang yang ‘kreatif’, karena memang batas antara kreatif dan tidak kreatif bersifat semu.

Namun, membaca akan membawa kita untuk mulai berpikir dengan sudut pkitang yang berbeda. Misal, setelah membaca history of cheese in art mungkin kita mulai memperhatikan hal-hal kecil disekitar kita dan merenungkan apa yang dapat menjadi sumber inpirasi kita selanjutnya.

Yang perlu diperhatikan adalah, biasanya kita mempelajari hal yang sifatnya pasti atau memberikan jawaban secara step-by-step. Dibanding melakukan hal tersebut, mulailah untuk mempelajari hal yang belum pernah kita pelajari sebelumnya.

Salah satu kegiatan yang patut kita coba adalah Obli challenge. Kita akan ditantang untuk melakukan berbagai kegiatan yang mungkin kita belum pernah lakukan sebelumnya, misal “do it wrong”, “work at a different speed”, etc. Menyelesaikan permasalahan pada kondisi yang baru aka memaksa otak kita untuk berpikir secara kreatif. You need to try it!

Sekarang, saya akan mengajak kita untuk membuka sebuah informasi yang cukup jarang disampaikan di beberapa media nasional.

Kreativitas Indonesia?

“Maybe that’s enlightenment enough: to know that there is no final resting place of the mind; no moment of smug clarity. Perhaps wisdom…is realizing how small I am, and unwise, and how far I have yet to go.” - Anthony Bourdain

 

Pernahkah kalian duduk, diam, dan berpikir. Seberapa kreatif negara Indonesia sebenarnya? Terutama ketika kita bandingkan dengan negara-negara lain.

Saya yakin sebagian besar dari kalian menilai bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat kreativitas yang sedang (50 dari 100) atau bahkan lebih tinggi. Namun sayangnya data berkata lain.

Berdasarkan Global Creativity Index (GCI) yang dipublikasikan oleh Martin Prosperity Institute pada tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat ke-115 dari 138 negara. Di ASEAN sendiri, Indonesia berada pada peringkat ke-6 dari 6 negara yang menjadi obyek analisis. Ya, Indonesia menempati posisi paling buncit di ASEAN pada studi tersebut.

Tamparan yang cukup menyakitkan bukan?

GCI sendiri mempertimbangkan tiga aspek yang disebut dengan “3T’s of economic development”, dimana indeks masing-masing dihitung berdasarkan variabel pengukurannya.

Screen Shot 2018-05-24 at 18.58.01Global Creativity Index by Martin Prosperity Institute (2015)

 

“Loh, ternyata kreativitas sebuah negara juga diukur dengan derajat toleransi terhadap kaum minoritas ya? “

Ya. Berdasarkan pada beberapa studi, tingginya toleransi berdampak pada munculnya divergent thinking. Divergent thinking mendorong pola pemikiran yang lebih terbuka sehingga seseorang dapat melihat sebuah permasalahan dari berbagai sudut pkitang, menyelesaikan permasalahan yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya, menghasilkan lebih banyak ide (fluency) dan ide yang lebih beragam (flexibility).

Studi tersebut juga menuliskan bahwa kreativitas (melalui GCI) memiliki korelasi yang cukup kuat terhadap ekonomi dan dinamika sosial suatu negara. Aspek ekonomi dihitung dengan menggunakan GDP per capita, Global Competitiveness Index, Entrepreneurship Index, dan Human Development Index. Sedangkan aspek sosial dihitung berdasarkan tingkat urbanisasi dan ketimpangan sosial.

Kesimpulan yang didapatkan adalah semakin kreatif masyarakat sebuah negara, maka kemungkinan negara tersebut untuk memiliki performansi ekonomi dan sosial yang baik akan semakin besar.

Picture1
Global Creativity Index by Martin Prosperity Institute (2015)

 

“Min, saya nggak setuju kalau Indonesia dikatakan sebagai negara yang tidak kreatif!”

Well, penulis juga tidak setuju jika Indonesia disebut sebagai negara yang “tidak kreatif”. Pada tingkat individu, Indonesia memiliki banyak sumberdaya kreatif. Terutama didorong dengan tingginya pertumbuhan ekonomi kreatif dan start-up pada lima tahun terakhir. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ketika dilihat dari kacamata sebuah negara, ketimpangan di Indonesia masih cukup tinggi.

Terus, ini jadi tanggung jawab siapa? Pemerintah? Partly to blame. Tapi tanggung jawab utama tetap ada di kita.

“It takes a village to raise a child.”

Sebuah peribahasa yang terasa sangat relevan disetiap zaman. Jika kita berharap Indonesia kembali menjadi kuda hitam di dunia, maka kita harus menjadi agen perubahan tersebut. Secara langsung ataupun tidak langsung. Bangkit dan mulailah peduli kepada ibu pertiwi karena Indonesia milik kita.

Salam kreatif!

“It’s the little details that are vital. Little things make big things happen.” - John Wooden

Picture2 Alfin Zuhry
Penulis merupakan seorang mahasiswa Teknik Industri di Universitas Gadjah Mada dan co-owner dari Batik Nusa Indah yang memiliki ketertarikan didunia desain grafis dan videografi.


Jika anda memiliki ketertarikan untuk kolaborasi dan menyumbangkan tulisan anda tentang bisnis, ekonomi, manajemen, dan personal development, silahkan kirimkan tulisan anda ke evanfabio.EF@gmail.com.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s