Curhat – Talk of Life

Sudah hampir satu tahun berlalu sejak terakhir kali ada tulisan yang gua bikin bener-bener dari hati, tanpa embel-embel mengedukasi pembaca. Banyak penyebabnya, mulai dari jadwal sehari-hari yang memang cukup padat, bingung mau berbagi cerita apa, sampai memang dasarnya gua lazy snob.

Malah, bisa jadi penyebabnya adalah penyakit yang paling fatal: gua kehilangan gairah menulis untuk sejenak.

Gua tipe orang yang mudah termotivasi, namun mudah pula untuk terdemotivasi. Pantikan semangat yang sederhana bisa membuat gua bangun dari kasur dan berdiri tegak seketika. Namun jangan salah, sekali saja punggung gua menyentuh kasur, mengangkatnya kembali hampir terdengar mustahil.

Also, to be honest, life hasn’t been too kind to me. I might not really show it, but I remember everything. In some kind of way, that’s not really an ideal situation for me to be passionate about something.

Ada beberapa hal yang menjadi kekhawatiran gua pada saat ini. Pertama, gua ada di persimpangan jalan menuju gerbang kehidupan. Yeah, call me out for being overdramatic, but that’s how it is. Gua mau curhat dulu, ah.

Cuma orang yang sudah berada di titik ini yang paham gimana bikin galaunya persoalan yang satu ini. Sejujurnya, gua pun sudah memprediksikan hal ini jauh sebelum tiba momen ini. Hal itulah yang memotivasi gua untuk mencoba berbagai kegiatan yang bisa gua jamah dengan tangan sendiri selama masih duduk di bangku kuliah.

Menulis, sudah. Bisnis kecil-kecilan, sudah. Menjadi freelance designer, sudah. Freelance researcher, sudah dan masih tetap berjalan, utamanya karena gua butuh duit.

Oiya, ada hobi baru yang sedang gua geluti saat ini. Kalau lo mengikuti update sehari-hari gua di Instagram stories dan Twitter, kalian pasti tahu apa.

Yap, fotografi dan digital art.

Pertama kali gua menjamah fotografi adalah dua bulan yang lalu, ketika gua mendapatkan beberapa job kecil-kecilan untuk meng-eksplor skill yang gua punya. Sembari melakoni fotografi, gua kemudian mengenal yang dinamakan digital art di Instagram.

Dalam sebulan terakhir ini, digital art bener-bener bikin gua jatuh cinta. Jujur sih, gua bener-bener merasakan sesuatu yang berbeda di sini.

Basically, a digital artist is similar to a modern painter. Kalau biasanya seorang pelukis menggunakan cat dan kuas, seorang digital artist menggunakan foto dan software photo-editing seperti Adobe Photoshop dan Lightroom.

Jika bisa ditakar, gua menghabiskan setidaknya 30-40 persen waktu bersantai gua sebulan terakhir ini di kedua software ini, terutama Photoshop. Kira-kira 3-5 jam per hari lah, bahkan seringkali lebih dari itu.

Setiap proses pembuatannya, mampu gua nikmati layaknya penyanyi amatir level RT yang bernyanyi di kamar mandi. Tidak peduli apakah karya itu diterima orang lain atau tidak, gua hanya memperdulikan taste yang gua miliki seorang.

I have never felt more alive doing something that looks so boring, to be honest.

screen shot 2019-01-11 at 18.58.12
Courtesy: @artworksbyevan

 

Boleh banget kalau suka di follow dan di-share, ini page-nya.

 

Sayangnya, hal ini malah semakin menambah kebingungan gua dalam menentukan jalan karir. Dunia gak berhutang apapun sama gua satu sen pun. Dunia gak pernah punya kewajiban untuk menuruti apa yang gua inginkan atau keharusan menjadikan gua sebagai pusat tata surya.

Itu fakta yang harus gua terima.

At this point, I feel like it’s about which one I can compromise more. That’s why I don’t really believe in passion anymore.

Seringkali, apa yang menjadi passion lo, nyatanya gak cukup buat membiayai hidup lo. Itu adalah salah satu alasan mengapa beberapa bulan kemarin, gua kerja tiga job sekaligus. Satu untuk gua tabung dan gua investasikan, dua untuk mengumpulkan portfolio di bidang yang memang gua sukai.

Hal ini menyebabkan gua untuk sering bekerja lebih dari 40 jam seminggu, belum lagi kalau gua harus memeras keringat di akhir minggu. It’s a lot of struggle, a lot of sweat. Why? Because there is no one size fits-all in this life.

Gua memilih jalan ini, ya gua harus siap menerima konsekuensi yang datang bersama itu. Hidup ini memang gak ideal, makanya gua bersedia melakukan itu. Gua gak tahu harus melakukan ini sampai kapan. Gua gak tahu bakalan tahan sampai kapan juga.

Tapi gua yakin sih kalau gua mampu menghadapi ini. Sangat mampu. Cuma itu bekal gua saat ini. Keyakinan diri.

Semoga.

 

Tentang Resolusi

Mengenai 2019 dan resolusi ke depannya, gua sudah menulis dengan detil apa saja yang ingin gua capai beberapa tahun ke depan. Gua tipe orang yang gemar menulis target yang gua fikir agak mustahil tercapai namun masih do-able. Alasannya sederhana.

Biar gua tetep semangat ngejarnya, tapi kalopun gagal gua masih mencapai tempat yang cukup tinggi.

Anggap aja ini sharing ringan, tapi kebiasaan yang gua lakukan adalah gua selalu me-review progresi gua dalam mencapai target tersebut. Mau menurun, meningkat, atau gak ada perubahan sama sekali pun gua tetap melakukan itu. Dalam evaluasi tersebut, gua mendefinisikan penyebab dari progress tersebut.

Jika meningkat, gua jabarkan mengapa itu terjadi dan apakah ada controllable variable yang bisa gua optimalkan. Begitu juga halnya ketika menurun. Gua akan mencari penyebab dari penurunan itu dan membuat rencana perbaikan selama seminggu ke depan.

Hal itu terus dilakukan berulang kali tanpa pernah putus. Biasanya gua simpan dalam smartphone yang gua punya.

Sejak bulan Maret tahun lalu, gua bertekad untuk memenuhi target yang sudah gua canangkan dengan cara ini. Alhamdulillah, hal ini mampu gua pertahankan sampai sekarang.

Gak cuma itu, ‘menyontek’ teknik Mas @fellexandro, sejak pertengahan tahun lalu gua bertekad untuk memberikan diri gua suatu hadiah ulang tahun yang gak bisa dibeli dengan uang setiap tahunnya di masa yang akan mendatang.

Hadiah ini bisa dalam bentuk kesehatan, emosi, pencapaian, dll. Pokoknya apapun yang gak bisa dibeli dengan uang. Bulan depan, gua ulang tahun yang ke-21 dan gua sudah menemukan hadiah itu. Tadinya, gua sempet bingung karena belom ketemu-ketemu, untung aja hilal sudah mulai terlihat.

Mungkin gua akan share hal itu bulan depan. Semoga, kalau enggak lupa ya. Hehe.

 

In the meantime, I think that’s all from me. Sorry for the long essay, I hope you enjoy reading this as much as I do writing it. Ciao, love, and peace from Jakarta.

Published by

evanfabio

An occasional blogger. Student at Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s