Dua Puluh Satu

If I have to rate my 20 years old with a number, it would be 5. Not too good, not too bad.

Yet, here I am, February 14th, turning 21 years young and strong.

Sejak punya blog ini hampir 3 tahun yang lalu, ini adalah pertama kalinya gua bikin postingan tentang pergantian umur. Kalau dulu, gua malu dan gak enak karena gua terlalu muda dibandingkan dengan teman-teman sepantaran. Bahkan, gua lebih memilih orang lupa saja dengan ulang tahun gua. Harapannya sih biar gak ada yang sadar umur gua, hehe.

Turns out, 20 years old didn’t work out too great for me. Tentu, gua bersyukur karena gua diberikan kesehatan yang luar biasa selama umur 20. Gua tidak mengalami sakit parah, pun juga gua tidak mendapati sebuah tragedi yang mengubah hidup gua.I’ll be forever thankful for that. Continue reading Dua Puluh Satu

Be Like Cristiano Ronaldo, not Lionel Messi

The date was 13rd January 2014.

That was the night when for the first time in 4 years, Cristiano Ronaldo managed to snatch the golden trophy from the loving arm of Lionel Messi.

But Ronaldo would be the first to tell you that it was anything but easy. You can even tell from the looks of his eyes. Teary and weary. It was an emotional night for the Portuguese given the background of losing on the football’s Oscar 4 years in a row.

He cried because he was the only person who knew exactly what he had to go through to be in that position. Continue reading Be Like Cristiano Ronaldo, not Lionel Messi

Tentang Menghargai Freelancer

Disclaimer: Apa yang saya sampaikan murni pandangan dan pengalaman saya pribadi. Saya sama sekali tidak menggeneralisir semua perekrut karena memang tidak semuanya seperti ini.


2 bulan yang lalu saya sempat menulis di The Jakarta Post tentang bagaimana digitalisasi mengenalkan sebuah tren baru yang bernama Gig Economy. Anda dapat membaca versi lengkapnya di sini. Dalam ulasan di internet, Gig Economy didefisinikan sebagai keadaan dimana pattern dunia kerja mulai sedikit demi sedikit didominasi pekerja dengan kontrak jangka pendek ketimbang jangka panjang. Continue reading Tentang Menghargai Freelancer

Terima Kasih 2017, Kamu Keren..

Kalau di posting-an sebelumnya selalu memakai kata “saya” dalam menulis, pada edisi pergantian tahun posting-an sepertinya blog ini bakalan didominasi dengan kata “gue”. Gue merasa akhir tahun itu adalah waktu personal bagi siapapun yang ingin menjadi yang lebih baik di setahun kedepan. Supaya nuansa personal development nya keluar, gue pengen tulisan ini terasa lebih personal, hidup, dan sangat menggambarkan pikiran pribadi. Itulah kenapa gue memilih menulis menggunakan kata “gue”.

Continue reading Terima Kasih 2017, Kamu Keren..