Blue Ocean Shift: Strategi Memenangkan Perang dengan Menjauh dari Medan Perang

Blue Ocean Shift adalah salah satu buku tentang strategi bisnis paling impactful dalam sejarah yang ditulis oleh duo professor top di sekolah bisnis dan manajemen INSEAD, W. Chan Kim dan Renée Mauborgne. Sejatinya buku ini merupakan edisi lanjutan dari buku Blue Ocean Strategy yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh penulis yang sama. Menurut  link dari website resmi kedua buku ini, Blue Ocean Strategy mencatatkan penjualan sebesar 3,5 juta kopi, diterjemahkan ke dalam 44 bahasa, dan merupakan bestseller di 5 benua.

blue ocean shift

Continue reading Blue Ocean Shift: Strategi Memenangkan Perang dengan Menjauh dari Medan Perang

Tentang Behavioral Economics dan Cara Memanfaatkannya untuk Jadi Lebih Produktif

Pada tahun 2017, penghargaan Nobel dalam bidang ekonomi dihadiahkan kepada Richard H. Thaler, seorang behavioral economist. Beliau adalah seorang professor di University of Chicago Booth School of Business. Dalam catatan media, Professor Thaler mendapat Nobel atas kerja keras hidupnya yang mampu membuktikan bahwa prilaku manusia itu acap kali irrational dan unpredictable. Continue reading Tentang Behavioral Economics dan Cara Memanfaatkannya untuk Jadi Lebih Produktif

Menggunakan Instagram untuk Perkembangan Diri

Menurut sebuah riset yang dilakukan TIME ini, Instagram dinobatkan sebagai media sosial yang punya dampak paling buruk bagi kesehatan jiwa. Menurut survey pada 1500  remaja dan young adult, Instagram seringkali diasosiasikan dengan level kecemasan yang tinggi, depresi, bullying, dan FOMO atau “fear of missing out“.

Ini riset yang unik, thought-provoking, dan mungkin kontroversial karena penyebabnya macam-macam. Banyak orang yang stress karena mereka terus-menerus melihat teman mereka berlibur dan bersenang-senang. Karena value proposition Instagram ada pada konten visualnya, hal ini seolah tidak mungkin dihindari. Otak manusia memproses gambar 60.000 kali lebih cepat dari tulisan.

Hal ini diperparah dengan sifat alami otak manusia yang sudah terprogram untuk membanding-bandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang. Instagram ini bisa diibaratkan seperti obat yang menstimulasi otak manusia agar mereka lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Continue reading Menggunakan Instagram untuk Perkembangan Diri

Berinovasi Tidak Selalu Indah, Tanya Saja GoPro

Meskipun sudah berdiri sejak 2002, GoPro baru benar menunjukkan taringnya di tahun 2012 ketika mereka meluncurkan produk HERO 3+. Saat itu, GoPro sangat amat nge-hype. Gimana enggak? Bisa dibilang GoPro menciptakan pasar baru dan berkuasa di bidangnya sendiri, yaitu action camera. 

Di eranya, produk GoPro HERO 3+ ini ibarat kotoran alien yang tiba-tiba jatuh dari langit. Semua orang amazed dan penasaran ingin membeli. HERO 3+ punya kemampuan merekam gambar dengan aspek rasio 16:9, 4K UHD, dan kamera 12 MP. Fast forward, kemudian muncullah HERO 4 di tahun 2014.

Di tahun yang sama, GoPro mulai IPO (Inital Public Offering, yaitu proses awal menjual sahamnya dan berubah status menjadi perusahaan milik publik). Saham GoPro dijual per lembar sebesar $25 dan total terjual 17,8 juta lembar saham. Saat IPO, total GoPro mendapatkan suntikan dana sebesar $427 juta. Valuasi perusahaan juga mencapai $2,95 miliar. Continue reading Berinovasi Tidak Selalu Indah, Tanya Saja GoPro

Menjelaskan Penutupan Masal Toko Ritel Fashion di Indonesia

3 tahun terakhir bisa kita sebut sebagai apocalypse untuk dunia ritel fashion di Indonesia. Gimana enggak? Berbagai toko ritel ternama di dunia, seperti Debenhams dan GAP, satu per satu mulai berguguran cabangnya di Indonesia. Banyaknya toko fashion yang gulung tikar jelas aja langsung bikin publik ikut berspekulasi mengenai penyebabnya.

Ada apa sebenarnya? Continue reading Menjelaskan Penutupan Masal Toko Ritel Fashion di Indonesia